WULANG DALEM PB IX (ALIH AKSARA, TERJEMAHAN, DAN KAJIAN BUDAYA)

Pengarang: 

D. EDI SUBROTO

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JAKARTA

Tahun Terbit: 

1995

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

1.4(000-09

WULANG DALEM PB IX (ALIH AKSARA, TERJEMAHAN, DAN KAJIAN BUDAYA)


Wulang dalem PB IX digubah oleh Sunan Paku Buwana IX di Surakarta dengan menggunakan bentuk tembang macapat 'puisi Jawa Baru tradisional' yang terdiri atas : Murweng Kidung, terdiri dari 18 pupuh = 298 bait, Ari Sukra terdiri dari 13 pupuh = 117 bait, Murweng Karsa terdiri dari 4 pupuh = 55 bait, Kasmaran Jeng Sri Bupati terdiri 6 pupuh = 73 bait, Gandrung Asmara terdiri dari 4 pupuh = 41 bait, Wulang Putra terdiri dari 3 pupuh = 63 bait. Pada dasarnya Wulang Dalem PB IX berisi ajaran moral yang ditujukan kepada keluarga raja, kaum bangsawan, dan hamba di istana Surakarta. Data moral yang terdapat di dalamnya merupakan moral yang ideal, yang dianggap sebagai pedoman hidup yang sebenarnya di masyarakat jawa pada waktu itu, khususnya di lingkungan istana Surakarta. Nilai-nilai tradisional mengalami erosi, sedangkan yang baru masih dalam proses pertumbuhan. Generasi muda ini dianggap oleh generasi tua kurang menghargai dan kurang menghormati adat-istiadat dan nilai-nilai luhur warisan leluhur, kurang sopan santun, kurangprihatin,tidak mau mendengarkan pendapat orang-orang tua dan sebagainya. Ajaran moral yang diungkapkandalam Wulang Dalem PB IX tidak hanya pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa lewat Al-Qur'an dan hadistnya saja, melainkan ditambah dengan sikap meneladan terhadap tokoh-tokoh leluhur dinasti Mataram dan beberapa tokoh pewayangan serta tokoh ulama yang cukup terpandang. Hubungansosial masih berpegang pada sifat tradisional dengan urutan berdasarkan usia, pangkat,dan tali kekerabatan yang disertai pula dengan dasar salingmenghormati sesuai dengan statusnya, tenggang rasa, agar ada keseimbangan antara tua-muda, atas-bawah, dan diantara sesama.