WAWACAN LAYANG SYEKH ABDUL QODIR JAELANI

Pengarang: 

NINIEN KARLINA

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JAKARTA

Tahun Terbit: 

1990

Daerah/Wilayah: 
Jawa Barat
Rak: 

1.5(200-29

WAWACAN LAYANG SYEKH ABDUL QODIR JAELANI
Wawacan layang Syekh Abdul Qodir Zaelani adalah sebuah karya sastra lama, termasuk klasik, digolongkan ke dalam golongan cerita katagori sejarah yang penulisannya merupakan riwayat / hikayat. Istilah wawacan karena cerita Syekh AbdulQodir Zaelani ini sudah merupakan buku dan dibawakan dengan ditembangkan (didangding), yang tersusun berdasarkan pupuh-pupuh Dangdanggula, Asmaradana, Sinom, Kinanti, Pangkur, Gurisa, Durma, Pucung, Lambang, Mijil dan Maskumambang. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Sunda, dengan pengaruh bahasa Arab, dikarenakan ceritanya yang mencerminkan budayaagama Islam, tingkatan-tingkatan ilmu di dalam menuju ma'rifat kepada Allah SWT, berdasarkan cerita dari tokoh-tokoh Islam di jamannya sejarah ini ditulis. Cerita ini ditulis dengan dilatarbelakangi oleh kemuliaan tentang seorang Syekh di jaman dahulu, ahli menyembah dan senang berbakti kepada Allah SWT, kepada semua para wali saat itu, agar bermanfaat untuk dijadikan pelajaran bagi pembacanya, membuang segala perilaku yang tidak baik, dan mencegah perilaku yang dilarang oleh agama Islam, misalnya maksiat. Tingkatan ilmu di dalam agama Islam, tersusun menjadi empat tahap, yaitu : Syariat, Thareqat, hakikat dan Ma'rifat. Rangkaian ilmu ini, dilaksanakan oleh Syekh Abdul Qodir Zaelani hingga Ma'rifat, seorang pembesar Wali yang dikasihioleh Yang Maha Suci, oleh Yang Sukma Maha Agung, yang mendapat Rahmat dan Salam, yang disayangi oleh Allah SWT. Nilai konsepsional yang terdapat dalam cerita ini mengacu pada nilai kemuliaan, rahasia cahaya-cahaya Illahi, disertai dengan makna-makna yang tersembunyi di balik pengertian harafiah beberapa ayat suci Al-Qur'an, meliputi nilai ketekunan dalam berilmu, nilai ketaatankepada guru, nilai percaya dan yakin percaya akan adanya Allah SWT beserta para utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, para malaikat, para Wali, para Auliya, nilai ghaib melalui perantaraan ilmu Tasawwuf yang diterjemahkan sebagai ilmu mistiknya Islam.