WASTRA TENUN KALIMANTAN SELATAN

Pengarang: 

DWI PUTRO SULAKSONO

Penerbit: 

PUSTAKA BANUA

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

RKE - 746.1 (740-749)

ISSN/ISBN: 

978-602-9864-35-9

Jumlah Halaman: 
139

Ratusan tahun para penenun telah berada di dalam akulturasi budaya di Pagatan. Hal ini terlihat pada motif-motif yang tertuang pada Tenun Pagatan hingga akhirnya tenun memiliki jati diri sendiri sebagai bagian sejarah kehidupan di Pagatan. Tenun yang dihasilkan para perempuan Pagatan berupa tenun ikat dan songket (sobe). Tenun ini lebih dikenal sebagai Tenun Pagatan karena berasal dari Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu. Tenun ini merupakan bukti jejak migrasi suku bangsa Bugis di Pagatan sejak ratusan tahun yang lalu. Beberapa pemetaan dilakukan yaitu jumlah penenun, sebaran penenun, tingkat keahlian mereka, produktivitasnya, aset teknologi dan pemasaran produk. Terdapat kurang lebih 80 pengrajin yang terlibat dari proses awal hingga akhir pembuatan tenun. Berdasar pada pemetaan tahun 2015, mereka tersebar di 8 Desa Kecamatan Kusan Hilir yaitu Manurung, Mudalang, Mattone Kampung Baru, Sepunggur, Saring Sungai Binjai, Batarang, Barugelang dan Salimuran. Pengrajin juga ditemukan di Kota Pagatan dan Simpang Empat Batu Licin. Menenun sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perempuan di Pagatan. Di setiap rumah pasti di temukan alat-alat tenun. Menuju tahun1990 hingga awal tahun 2000-an kegiatan menenun meredup dan menghilang. Situasi yang menyedihkan ini membuat pemerintah bergerak cepat untuk menyelamatkannya. Kegiatan studi banding, peningkatan kapasitas teknis penenunan, pelatihan pewarnaan alam dan promosi semakin gencar dilakukan. Produktivitas para penenunpun lambat laun dapat dipantau. Saat ini mereka terhimpun sebagai anggota Koperasi Tenun Pertiwi di Manurung, Koperasi Soraja di Sepunggur dan Kelompok Usaha Tenun Desa saring Sungai Binjai. para penenun di setiap desa secara rutin saling mengunjungi, bertukar pengalaman dan keahlian.