WARISAN BUDAYA TAKBENDA DI PROPINSI SUMATERA BARAT

Pengarang: 

HASANADI, DKK

Penerbit: 

BPNB PADANG

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

9.1 (JP)

ISSN/ISBN: 

978-602-8742-67-2

WARISAN BUDAYA TAKBENDA DI PROPINSI SUMATERA BARAT

Bunga Rampai ini memuat beberapa tulisan yang menginformasikan hasil pencatatan terkait warisan budaya takbenda di Provinsi Sumatera Barat pencatatan tahun 2011. Pertama hasil pencatatan 52 (limapuluh dua) warisan budaya yang dilakukanoleh Hasanadi di Nagari Matua Hilia Kecamatan MaturKabupaten Agam. Berkenaan dengan Nagari Matua Hilia, sebagaimana diungkapkan bahwa salah satu kebijakan pemerintahan nagari dalam menentukan strategi pencapaian visi dan misi nagari adalah menghimpun potensi dan aspirasi yang ada, baik di nagari maupun di perantauan terutama untuk perkembangan pembangunan sosial budaya. Kedua hasil pencatatan 64 (enampuluh empat) warisan budaya yang dilakukan Silvia Devi di Kabupaten Limapuluh kota. Ketiga hasil pencatatan 33 (tigapuluh tiga) warisan budaya yang dilakukan oleh Syafrilman di Kabupaten Padang Pariaman. Keempat hasil pencatatan 37 (tigapuluh tujuh) warisan budaya yang dilakukan Budi Eka Putra di Kabupaten Pesisir Selatan. Kelima hasil pencatatan 34 (tigapuluh empat) warisan budaya yang dilakukan Reza Lahardo di Kabupaten Solok. Menurutnya informasi lain yang penting diulas terkait dengan Kabupaten Solok adalah, pemekaran wilayah Kabupaten Solok pada akhir tahun 2003 yang telah melahirkan satu kabupaten baru yaitu Kabupaten Solok Selatan. Keenam hasil pencatatan 44 (empatpuluh empat) warisan budaya yang dilakukan Undri di Kabupaten Dharmasraya. Sebagaimana dijelaskannya, dalam perspektif sejarah nama Dharmasraya diambil dari nama sebuah kerajaan yang pernah berkuasa setelah kejatuhan Kerajaan Sriwijaya di abad 13-14.