UPACARA-UPACARA DAYAK NGAJU DI KALIMANTAN TENGAH ANTARA ADAT DAN AGAMA

Pengarang: 

M. NATSIR, POLTAK JOHANSEN, SEPTI DHANIK PRASTIWI

Penerbit: 

MEDIA JAYA ABADI

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

UUA - 392 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-623-7526-09-4

Jumlah Halaman: 
110

Sebelum mengenal bermacam-macam agama resmi, orang Ngaju tidak dipisahkan dari kehidupan spiritualnya yang dikenal dengan kepercayaan Kaharingan. Berbagai macam upacara ritual dilakukan sebagai wujud implementasi kehidupan spiritual guna memberikan keseimbangan kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Mereka menyadari jika hal ini tidak dilaksanakan, akan mengganggu kehidupan mereka, termasuk dalam pekerjaan dan terlebih dalam aktivitas pertanian mereka. Tak satupun peristiwa penting yang dilalui tanpa upacara ritual baik dalam kehidupan maupun kematian. Beberapa diantaranya adalah Upacara Kehamilan dan Kelahiran yang meliputi Upacara Nyaki Ehet/Dirit (Upacara Tujuh Bulanan), Upacara Mangkang Kahang Badak (Upacara Sembilan Bulanan),  dan Upacara Palas Bidan. Ada pula Upacara Masa Kanak-kanak, Upacara Perkawinan yang dilaksanakan oleh suku Dayak Ngaju dibagi dalam empat tahap yaitu Tahap Pertama, Tahap Kedua, Maja Misek, Perjanjian Laki-laki, dan Menyaki Rambat. Umumnya, masyarakat Ngaju yang sudah mulai mengenal dan memeluk agama resmi baik Kristen, Katolik atau Islam mengaggap ajaran Kaharingan telah menjadi adat bagi masyarakat Dayak. Mereka tetap melaksanakan upacara meski tidak sepenuhnya dan terkadang apa yang mereka lakukan sering dikatakan bertentangan dengan ajaran agama yang telah mereka anut.