UPACARA MENANDA TAHUN

Pengarang: 

MUHAMMAD LIYANSYAH

Penerbit: 

BPNB ACEH

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

UUA - 394.2 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-95-7

Jumlah Halaman: 
20

Upacara menanda tahun merupakan hasil dari masyarakat Pakpak yang hingga saat kita ini masih ada dan masih di lestarikan oleh masyarakat Pakpak. Masyarakat Pakpak percaya bahwa ada kekuatan yang mampu dapat mengubah kondisi manusia. Sehingga upacara Menanda Tahun ini tetap dijaga dan dilaksakan agar hubungan manusia dengan alam tetap baik. Ritual upacara menanda tahun sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia sehingga apabila masyarakat tidak melaksanakan upacara ini maka hasil dari bercocok tanam menjadi tidak berkah hasilnya dan juga dapat menimbulkan ketidak haromisan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena upacara yang diadakan satu tahun sekali ini merupakan pembukaan ladang ketika menjelang musim tanam. Upacara ini dilakukan masyarakat untuk memperoleh izin keberkahan dari penguasa semesta alam. Jika masyarakat Pakpak membuka ladang tanpa di awali dengan upacara ini maka akan memberikan dampak yang tidak baik terhadap apa yang telah ingin di tanamnya. Begitu juga sebaliknya, jika masyarakat ketika ingin bercocok tanam di awali dengan tradisi upacara menanda tahun maka hasil yang di dapatnya menjadi baik dan mempunyai keberkahan dari alam. Upacara menanda tahun merupakan sebuah agenda tahunan yang cukup besar. Pada awal pelaksanaan upacara ini masyarakat setempat terlebih dahulu mengadakan suatu musyawarah terhadap masyarakat setempat agar apa yang menjadi tujuan utaman dari upacara ini dapat berjalan dengan baik. Tidak hanya itu, persiapan acara ini harus di hadiri oleh tokoh agama, guru, kepala desa dan juga tokoh adat. Prosesi upacara ini melibatkan semua masyarakat sehingga dalam proses persiapan ini masyarakat setempat ikut berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan upacara menanda tahun. Pelaksanaan ini membutuhkan perlengkapan atau persyaratan wajib dan juga tidak wajib. Perlengkapan wajib meliputi makanan tradisional, ranting pohon rube, bambu 7 batang, dan masih banyak lainnya. Peralatan yang tidak wajib apabila muncul upacara di laksanakan di iringi dengan kerbau, namun kerbau tersebut tidak wajib ada pada saat upacara. Tradisi upacara menanda tahun ini merupakan tradisi hasil dari nenek moyang mereka, sehingga masyarakat pada saat ini masih melestarikan tradisi ini. Sebelum Islam dan Kristen masuk, masyarakat hanya mengenal dua jenis upacara saja yaitu kerja jahat dan kerja baik. Kedua kegiatan ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat dalam beraktifitas. Segala kehidupan manusia mulai dari masa kandungan, bayi hingga tumbuh dewasa merupakan awal proses kehidupan manusia yang baik. Pada saat itu penamaan ini dinamakan upacara kerja baik. Sedangkan upacara jahat berkaitan dengan duka atau kematian.