UPACARA GREN MAHE (PENGHORMATAN LELUHUR) DI KABUPATEN SIKKA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Pengarang: 

PROF. DR. I WAYAN DIBIA, M.A,

Penerbit: 

BPNB BADUNG

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

4.3(390-39

ISSN/ISBN: 

978-602-7961-02-9

UPACARA GREN MAHE (PENGHORMATAN LELUHUR) DI KABUPATEN SIKKA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Upacara Gren Mahe dilatari oleh berbagai hal yang berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat Boganatar yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Sistem kepercayaan itu terutama tentang roh leluhur mereka tetapi juga mahluk halus yang diyakini berada di tanah Boganatar dan dapat mencampuri kehidupan masyarakat setempat. Ada konsepsi penting bagi masyarakat Boganatar terkait dengan sistem kepercayaan tersebut, yakni konsepsi tentang tanah/bumi, konsepsi tentang aktivitas bercocok tanam, dan hubungan seks, terutama dalam konteks pelaksanaan upacara Gren Mahe. Upacara Gren Mahe merupakan ritual adat atau kepercayaan akan keselamatan hidup yang dilakukan oleh orang Tana Ai. Upacara diadakan di tempat yang dianggap cocok yaitu di hutan. Ditempat ini dibangun Lepo, rumah adat dan Woga, sebuah paviliun kecil. Acara Gren Mahe hari pertama tanggal 5 November 2012 adalah melaksanakan upacara memberi makan langit dan bumi dan membersihkan lokasi upacara Mahe. Pada hari kedua tanggal 6 November 2012 dilakukan sebuah upacara untuk memberikan penghormatan sekaligus dimaksudkan agar upacara selanjutnya dapat berlangsung dengan selamat. Pada hari ketiga, 7 November 2012 penyimpanan keris di atas sebuah pohon beringin yang tumbuh di Bukit Natar Nuhu tempat upacara Gren Mahe dilangsungkan. Pada hari keempat, 8 November 2012 merupakan puncak acara Gren Mahe yang dibuat adalah upacara persiapan pemotongan hewan dengan memecahkan beberapa butir telur ayam yang ditambahkan dengan sirih pinang dan beras. Pada hari kelima, 9 November 2012, pada tahap ini dilaksanakan upacara Gorok Ulan yang merupakan tahap akhir dari upacara Gren Mahe.