UPACARA DAUR HIDUP SUKU DAYAK NGAJU DI DESA SIGI KABUPATEN PULANG PISAU PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Pengarang: 

SALMON BATUALO

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2011

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

UUA - 392 (390-299)

ISSN/ISBN: 

978-602-7942-67-7

Jumlah Halaman: 
71

Masyarakat/suku Dayak Ngaju yang sering disebut sebagai orang Ngaju, umumnya dalam kehidupan sehari-hari rasa kekeluargaan dan tolong menolong dan kerjasama masih begitu kuat sebab masih diikat dalam hubungan darah (geneologis). Kuatnya masyarakat dalam menjalani adat dan hukum adat juga membuat rasa solidaritas dalam masyarakat terlihat sangat kental. Sehingga dalam setiap aspek kehidupan mereka saling menolong, baik pada saat gawe (pesta) yang dapat dilihat dalam pelaksanaan proses daur hidup sejak mereka melaksanakan upacara perkawinan hingga kematian. Dalam kehidupan kekerabatan masyarakat Dayak Ngaju bersifat bilateral dan parental. Bentuk upacara adat pada masyarakat Dayak Ngaju yang terdapat di Desa Sigi diantaranya upacara kelahiran yaitu berupa acara pemalasan, yakni dengan memalaskan atau mengoleskan darah ayam kepada sang ibu dan anak agar terhindar dari roh-roh jahat. Selain itu pamalasan juga bertujuan untuk membersihkan tali pusar si bayi. Bagi masyarakat Dayak Ngaju ada kepercayaan selama tali pusar belum putus maka tidak ada upacara yang dilakukan. Tradisi malas bidan pada masyarakat Dayak Ngaju memiliki makna untuk kekuatan lahiriah baik untuk bidan yang melakukan proses kelahiran maupun kepada ibu yang melahirkan.