UNSUR-UNSUR KARAKTER BANGSA DALAM TRADISI-LISAN GORONTALO TAHULI DAN TAHUDA

Pengarang: 

SALMIN DJAKARIA

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Gorontalo
Rak: 

394.4 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-59-3

Jumlah Halaman: 
99

Sastra lisan tahuli dan tahuda merupakan dua ragam tradisi lisan yang didukung oleh komunitas adat Gorontalo yang telah tumbuh dan berkembang dari satuan-satuan komunitas yang disebut linula. Sastra lisan ragam formal-ritual, tahuli dan tahuda atau adalah dua ragam yang khusus dituturkan pada upacara penganugerahan gelar adat atau pulanga. Penganugerahan gelar adat ini bukanlah sebuah hadiah semata, melainkan pemberian hak serta kewajiban bagi putra daerah Gorontalo baik yang berkarir didaerah maupun di luar daerah yang memenuhi kriteria yang sudah ditetapkan atau tepatnya sesuai kriteria yang diwarisi dari leluhur kemudian ditetapkan melalui kesepakatan para peserta seminar adat. Penutur tahuli dan tahuda tidaklah sembarang “orang tua” anggota pemangku adat, melainkan dilihat hubungannya dalam konteks limo lo pohala’a serta posisi si penerima anugerah adat tersebut. Siapa yang berhak memberi pesan atau tahuli dan isinya tentang apa, dan siapa pula yang berhak menyampaikan fatwa atau sabda para leluhur yang disebut tahuda. Jika dalam satu upacara penganugerahan gelar adat dapat didengar lima hingga tujuh tokoh adat yang menuturkan tahuli, maka dalam upacara yang sama hanya seorang yang dianggap tertua tidak dalam arti usia melainkan status dalam jabatan pemangku adat dan persekutuan limo lo pohalaa yang menuturkan tahuda “sabda para leluhur” yang diingat-ingatkan karena didalamnya juga dinyatakan “sumpah” yang menjadi sanksi bila ada yang dilanggar atau tidak dipatuhi.