TUBAN (KOTA PELABUHAN DI JALAN SUTRA)

Pengarang: 

EDI SEDYAWATI, M.P.B. MANUS DAN SUPRATIKNO RAHARDJO

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 

Tahun Terbit: 

1997

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

SEK - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
100

Kota Pelabuhan Tuban yang terletak di pantai utara Jawa Timur telah mengalami perkembangan melintasi berbagai zaman. Dan mulai dikenal dalam sumber tertulis sejak masa Hindu-Budha, dan tetap berperan pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kota Tuban sebenarnya cukup tua, mungkin lebih dari sembilan abad terhitung sejak zaman Airlangga sekitar abad ke-11 hingga abad ke-20 sekarang ini. Berdasarkan kondisi sosio-geografis dan perkembangannya, Kota Tuban dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal, kota ini dipandang sebagai sistem yang tertutup. Bukti tertulis yang dapat dikaitkan dengan sejarah Kota Tuban antara lain dapat diketahui berdasarkan empat prasasti yang diketemukan, meliputi prasasti Kembangputih, Malenga, Jaring dan Karangbogem. Sedangkan secara eksternal, sesungguhnya dilandasi oleh anggapan bahwa kota adalah hasil adaptasi dari lingkungan alam maupun budaya di sekitarnya. Sebagai kota pelabuhan, Tuban pada dasarnya menjalankan kegiatan perdagangan. Memasuki abad ke-16, kelompok sosial di Tuban nampaknya masih belum mengalami perubahan yang berarti. Jadi masih serupa dengan pengelompokan sosial yang terjadi sejak akhir abad ke-13 sebagaimana dicatat dalam berita Cina. Berdasarkan pengalaman historisnya, Tuban memiliki tiga macam peranan dalam masa pertumbuhannya, yaitu perdagangan, militer dan agama. Ketiga hal tersebut selalu nampak dalam setiap zaman, meskipun dengan penekanan yang berbeda-beda.