TRADISI PERANG TIMBUNG DI DESA PEJANGGIK, KECAMATAN PRAYA TENGAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT

Pengarang: 

I MADE SATYANANDA, GUSTI AYU ARMINI, A.A. GDE RAI GRIA, RAJ. RIANA DIAH PRAWITASARI

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Barat
Rak: 

TDK - 394.2 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-282-4

Jumlah Halaman: 
119

Tradisi Perang Timbung merupakan tradisi yang masih dilaksanakan dan dapat kita jumpai khususnya di kalangan suku Sasak yang ada di Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini dilaksanakan dengan melemparkan timbung (sejenis lemang) yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Dalam tradisi ini masing-masing peserta saling lempar timbung, baik yang ada di atas (komplek makam Serewa) maupun dibawah di pinggir jalan dan berusaha agar lemparannya dapat mengenai sasaran. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan 4 menurut penanggalan adat Sasak dan ditandai dengan berbunganya pohon Dangah yang ada di komplek makam Serewa. Timbung adalah ketan berisi santan yang dimasukkan kedalam ruas bambu dimana didalamnya sudah dilapisi dengan daun pisang, dan dibakar sekitar 6-7 jam dan benar-benar matang. Timbung inilah yang nantinya digunakan sebagai sarana utama dalam pelaksanaan tradisi Perang Timbung. Timbung ini tidak dibuat semata-mata untuk keperluan perang saja, melainkan juga untuk dinikmati bersama dan bahkan diberikan kepada pihak yang telah menyumbangkan sangkal. Tradisi ini dilaksanakan sebagai perwujudan rasa bakti dan hormat kepada leluhur, mempererat silaturahmi, dan tidak jarang pula digunakan sebagai ajang untuk mencari jodoh. Bagi masyarakat Pejanggik, perang timbung ini memiliki fungsi ritual, fungsi musyawarah. Tradisi Perang Timbung juga kaya akan nilai yang dapat dipetik dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari seperti nilai syukur, religius, integrasi dan estetika.