TRADISI DAN KEARIFAN KELOLA EKOSISTEM DANAU (di) LINDUNG (i) DI DESA EMPANGAU HILIR, DAN TELUK AUR, KECAMATAN BUNUT HILIR KAPUAS HULU

Pengarang: 

NENI PUJI NUR RAHMAWATI, MOCH. ANDRI WP, SISVA MARYADI

Penerbit: 

MEDIA JAYA ABADI

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KEA - 577.63 (570-579)

ISSN/ISBN: 

678-623-7526-13-1

Jumlah Halaman: 
91

Kapuas Hulu merupakan salah satu dari lima kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Dengan luas wilayah yang setara dengan 20,33% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat, sebagian wilayah topografi Kapuas Hulu merupakan dataran rendah berupa kawasan cekungan hamparan banjir dan danau-danau rawa atau lebak lebung. Salah satu cekungan tangkapan air atau lebak lebung paling utama dan paling luas di Kapuas Hulu adalah yang selama ini kita kenal sebagai Taman Nasional Danau Sentarum. Selain Danau Sentarum, terdapat ratusan danau rawa atau lebak-lebak lebung lainnya. Bahkan, menurut AM Nasir, Bupati Kabupaten Kapuas Hulu saat ini, di wilayah Kapuas Hulu terdapat sekitar 200 aliran sungai dan 246 danau dengan 24 diantaranya ditetapkan sebagai kawasan danau lindung. Danau lindung sendiri merupakan kawasan ekosistem rawa gambut berupa danau-danau dalam atau lebak lebung yang ditetapkan sebagai kawasan lindung berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakatnya. Dari cara masyarakat memandang dan memahami danau lindung dan ekosistemnya ini, pada gilirannya akan muncul suatu nilai-nilai norma atau pedoman bagaimana seharusnya mereka bertindak dan berperilaku terhadap alam dan lingkungannya. Adapun salah satu tujuan utama ditetapkannya suatu danau menjadi danau lindung adalah pelestarian dan pengembangan spesies ikan endemik lokal Kapuas Hulu, Red Arwana.