TRADISI BAPONGKA ORANG BAJO DAN EKSISTENSINYA DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAUT YANG LESTARI STUDI

Pengarang: 

STEVEN SUMOLANG

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Tengah
Rak: 

5.1.2 (39

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-76-0

TRADISI BAPONGKA ORANG BAJO DAN EKSISTENSINYA DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAUT YANG LESTARI STUDI KEPULAUAN TOGEAN, SULAWESI TENGAH
Orang Bajo atau Bajau atau juga disebut Sama bagi masyarakat Bajo sendiri telah melakukan tradisi Bapongka yang diwariskan nenek moyangnya sedia kala, sehingga tradisi inilah yang membuat mereka berkelana kemana-mana dan menetap di daerah penangkapan hasil laut mereka. Tradisi Bapongka adalah menangkap hasil laut bapongka atau melakukan pongka adalah suatu kegiatan melaut khas masyarakat Bajo atau Bajau di kepulauan Togean yang telah dilakukan sejak lama. Mereka pergi ke satu tempat di luar kampungnya untuk mencari hasil laut selang berhari-hari hingga berminggu-minggu secara berkelompok. Pembentukan kelompok kecil bapongka lebih sering dilakukan berdasarkan kedekatan hubungan. Pada saat bapongka perlengkapan yang dibawa seperti bahan makanan, lampu petromaks, tempat air, perlengkapan memasak dan makan dst. Mereka mempercayai adanya Mbo di setiap bagian lautan, jika sembarangan dan tidak mengikuti tradisi yang ada maka Mbo bisa menyebabkan bahaya atau malapetaka bagi nelayan. Kini tradisi ini mulai terjadi perubahan berkaitan dengan tradisi Bapongka yang erat kaitannya dengan pelestarian lingkungan laut. Eksistensi tradisi bapongka sebagai tradisi yang mengandung nilai kearifan terhadap alam yang lestari, telah mengalami pergeseran, meski keyakinan akan adanya roh penguasa laut yang ada dalam bagian-bagian lautan masih ada dalam benak orang Bajo yang tidak terlepas dari keterikatannya dengan alam laut.