TERNATE SEBAGAI BANDAR JALUR SUTRA

Pengarang: 

RZ. LEIRISSA, SHALFIYANTI, RESTU GUNAWAN

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1999

Daerah/Wilayah: 
Maluku Utara
Rak: 

SEK - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
92

Munculnya Ternate sebagai bandar jalur sutra berkaitan erat dengan intekrasi jalur dagang darat maupun laut. Jalur darat erat kaitannya dengan ekspansi dinasti Mongol dari Cina, sedangkanjalur laut dimulai abad 13 pada waktu kekuasaan dinasti Abbasiyah menurun. Dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca (1365) mencatat Maluku Utara atau lazimnya disebut Maloko Kie Raha terdiri dari 4 kerajaan besaryaitu Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. Islam masuk di Ternate sekitar akhir abad 15, tetapi tidak terkait secara langsung dengan pedagang Cina yang sudahmasuk Ternate sekitar abad ke-10. Ternate sebagai bandar jalur sutra mengalami masa jaya pada abad ke-16. Dalam sejarah Ternate dan kronik kerajaan Bacan bentuk kekuasaan politik adalah boldan-boldan yang dikuasai oleh kolano-kolano Boldan-boldan dapat dikatakan bentuk awal dari kerajaan tradisional Maluku yang muncul pada pertengahan abad 15. Dari kajian arkeologis dan sejarah terutama sepanjang abad 16, Ternate dengan Islam sebagai basis penuntun dan kekayaan alam atau hasil bumi menjadi andalan kemakmurannya mengalami transformasi sosial yang kritis, disebabkan karena Portugis dan Belanda yang tidak hanya berdagang tetapi juga ingin menjajah. Sampai tahun 1970-an penduduk yang berdiam di Halmahera Utara menguasai bahasa Ternate sebagai bahasa kedua dan digunakan sebagai bahasa pergaulan antar etnis. Bahkan di Tobelo masih digunakan dalam syair nyanyian kuno.