TENUN WAJO DALAM MENGHADAPI BADAI KRISIS EKONOMI 1930-1998

Pengarang: 

SIMON SIRUA SARAPANG, M. Hum,

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

7.7(900-99

ISSN/ISBN: 

978-979-3897-63-9

TENUN WAJO DALAM MENGHADAPI BADAI KRISIS EKONOMI 1930-1998

Industri tenun Sengkang-Wajo telah bertahan dan melewati berbagai periode sejarah krisis yang melampau batas-batas rezim. Sejak krisis 1930-an, 1940-60-an dan krisis 1997-98, penenun Sengkang dapat bertahan dan melewati krisis tersebut. Pada tahun 1930-an, ketika terjadi malaise, penenun mampu melewati krisis dengan melakukan industri tenun dari hulu ke hilir, memanfaatkan potensi sumber daya lokal dan sistem pemasaran tradisional. Tahun 1940-60-an mengalami tantangan besar setelah penekanan pemerintahan Jepang pada tanaman pangan untuk kebutuhan perang sehingga terjadi kelangkaan bahan baku tenun. Memasuki periode 1950-60an tenun Sengkang-Wajo, ditengah tekanan keamanan regional justru penenun menemukan momentum dengan meningkatkan teknologi mereka. Periode krisis 1997-98, industri tenun mengalami kemandekan karena kelangkaan bahan baku lokal dan harga bahan baku impor yang semakin tak terbeli. Industri tenun Sengkang-Wajo mampu bertahan di tengah badai krisis disebabkan karena tenun ini bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi semata tetapi merupakan produk kebudayaan. Strategi pemasaran industri tenun Sengkang-Wajo dilakukan dengan dua saluran utama, yaitu sistem pasar tradisional dalam skala lokal dan sistem pemasaran profesional dengan membuka jaringan dalam dan luar negeri. Pemasaran tradisional utamanya dilakukan oleh penenun independen. Sistem ini merupakan pemasaran yang telah mentradisi sejak lama. Kemudian sistem yang lebih profesional yaitu membuka jaringan pemasaran dalam dan luar negeri dengan aneka ragam produk tenunan.