TENUN TERFO

Pengarang: 

YUDHA N. YAPSENANG DAN ENRICO Y. KONDOLOGIT

Penerbit: 

BPNB JAYAPURA-PAPUA

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Papua
Rak: 

RKE - 746.1 (740-749)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-069-1

Jumlah Halaman: 
83

Terfo adalah salah satu karya seni tradisional asli milik orang Sobey (salah satu suku bangsa yang ada di Kabupaten Sarmi, yang bermukim di daerah pesisir pantai) dalam teknologi pakaian. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Kampung Sawar, tenunan terfo adalah suatu benda yang ditinggalkan oleh makhluk halus yang disebut seus yang mendiami pohon eya-burwae yang dalam bahasa Indonesia disebut pohon beringin. Hingga saat ini sudah cukup banyak orang yang bisa menenun kain terfo di Kampung Sawar diantaranya Aneta Weasu, Beti Iroti, Leoni Zeifan dan masih aktif melakukan aktivitas menenun. Bahan baku utama untuk pembuatan kain terfo berasal dari pohon Nibun, sedangkan nama pohon tersebut dalam bahasa Orang Sobey disebut Pe'a atau kara. Namun dimasa sekarang tanaman kara yang dulunya banyak di Kampung Sawar sudah mulai berkurang, dan harus pergi mencari ke beberapa kampung diantaranya Kampung Kasukwe. Sedangkan tanaman yang biasa digunakan untuk mewarnai masih banyak, sedangkan tanaman tinta untuk menghasilkan warna biru sudah mulai jarang ditemui di Kampung Sawar. Adapun bagian dari alat tenunan terfo meliputi rangka dasar alat tenunan terfo disebut Papo, empat kayu atau pelepah nibun, kayu untuk pemukul/pisau pemukul, kayu tempat melingkarkan benang. Aktifitas penenunan masyarakat Sarmi di Kampung Sawar telah memiliki konsep tentang warna-warni yaitu 5 jenis warna. Adapun warna-warna yang biasa digunakan atau terdapat pada kain tenunan terfo meliputi warna putih (fepamo), merah (federa), merah muda, hitam (femeno), bitu, hijau tua, kuning (feyone) tua, kuning muda. Dalam masyarakat Sobey di Kampung Sawar dikenal 3 jenis kain tenunan terfo dan masing-masing kain ada fungsinya. Pada masa sekarang ini, penenunan kain terfo sudah mengalami perkembangan, dimana kain terfo telah dimodifikasi. Dan bahan yang digunakan pun sudah dan lebih banyak menggunakan benang yang diperjualbelikan di toko dan pasar Sarmi. Perubahan dalam produk hasil tenunan adalah untuk menambah nilai jual atau ekonomis dari hasil tenunan tersebut.