TENUN ANGKOLA DALAM DINAMIKA SEJARAH

Pengarang: 

CUT ZAHRINA

Penerbit: 

BPSNT BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

RKE - 746.1 (740-749)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-10-0

Jumlah Halaman: 
105

Keberadaan kerajinan pertenunan sudah menjadi fakta sejarah yang berusia cukup lama khususnya di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan bertenun diperkirakan mulai dari masa kerajaan, masa Belanda sampai dengan sekarang ini. Berbicara tentang perubahan alat bertenun, dimulai sesuai dengan lahirnya kegiatan bertenun dalam masyarakat Angkola, yaitu saat lahirnya tiga kerajaan tua di Sipirok. Sehingga alat tenun yang berkembang dalam masyarakat Angkola yang dikenal dengan nama hasaya atau lolotan selanjutnya berkembang menjadi ATBM (alat tenun bukan mesin) dan terakhir ATM (alat tenun mesin). Hasil tenun tradisional yaitu berupa kain adat Abit Godang dan Parompa Sadun tetap dilestarikan oleh masyarakat Angkola, yang mana kedua kain ini ikut disertakan dalam setiap upacara yang mereka lakukan baik upacara yang bersifat siriaon suka cita maupun upacara yang bersifat siluluton yaitu duka cita. Seiring dengan perubahan zaman kain ini disamping untuk upacara adat, saat ini kain tersebut sudah dijadikan sebagai nilai ekonomis yang sangat produktif.