TATA KRAMA SUKU BANGSA MANDAR DI KABUPATEN MAJENE

Pengarang: 

DRS. H. MUH. YUNUS HAFID, DKK

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 

Tahun Terbit: 

2000

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

395 (390-399)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
101

Perilaku tatakrama menghormat kepada orang yang lebih tua, nampak sedikit mengalami pergeseran dari konsep ideal tatakrama menghormati yang berpola dalam kehidupan masyarakat Mandar tradisional. Munculnya istilah bapaq dan ibu dalam menyambut dan menyapa bapak dan ibu, pada hakekatnya dianggap sopan dan berterima dalam kehidupan masyarakat Mandar. Namun, penggunaan istilah bapaq dan ibu tidak dapat memberikan perbedaan status dan kelas sosial antara golongan dari kalangan biasa dengan golongan dari kalangan bangsawan. Pergeseran tatakrama menghormat kepada orang yang lebih tua, nampak pula terlihat pada sikap anak di hadapan orang tua, terutama pada saat berbicara dan duduk bersama. Sikap anak yang tidak sesuai tatakrama tradisional itu dianggap kurang sopan apabila di lakukan di hadapan orang lain, tapi dianggap biasa-biasa saja apabila dilakukan didalam lingkungan keluarga atau kerabat dekat. Perilaku tatakrama makan dan minum juga telah mengalami pergeseran dari konsep ideal tatakrama dalam masyarakat Mandar. Pergeseran itu nampak terjadi pada sikap sewaktu makan yang mengarah pada sikap yang tidak sesuai tatakrama tradisional itu dianggap kurang sopan apabila hal itu dilakukan dihadapan orang lain, tapi dianggap biasa-biasa saja kalau dilakukan didalam lingkungan keluarga atau kerabat dekat. Begitu juga perilaku tatakrama dalam bersalaman dengan yang lebih tua, berpakaian dan berdandan, berbicara dalam masyarakat, bertegur sapa dalam masyarakat serta bertamu dalam masyarakat.