TARI SIREH DI DUSUN BUANI, DESA BENTEK, KECAMATAN GANGGA, KABUPATEN LOMBOK UTARA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Pengarang: 

A. AGUNG GDE RAI GRIA, RAJ RIANA DYAH PRAWITASARI, I KETUT SUDHARMA PUTRA, KADEK DWIKAYANA, DWI BAMBANG SANTOSA, DYAH CHRI EKASMARA

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Barat
Rak: 

RKE-793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-218-3

Jumlah Halaman: 
103

Tari sireh yang berasal dari Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara ini merupakan tarian yang wajib dilestarikan. Dalam istilah Sasak, tarian yang memiliki tema Memahaq ini berasal dari tradisi memakan daun sirih beserta dengan seluruh kelengkapannya. Durasi yang dimiliki dari tarian sireh ini biasanya tergantung dari permintaan dari si pemesan tarian tersebut, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Tarian pembuka dalam tari sireh disebut dengan igelan petembeq menggunakan tarian tumpang tampik. Ciri khas pada bagian ini adalah gerakan tangan menumpang dan menampik yaitu gerakan tangan kanan digerakkan ke atas secara bergantian dengan tangan kiri. Pada bagian isi dalam tarian sireh ini para penari menggerakkan pinggulnya kekanan dan kekiri, dan gerakan tangan kanan dan kiri sambil memegang selendang yang di gerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian. Tarian penutup pada tarian sireh disebut dengan igelan penutuq. Pada bagian ini, para penari seolah telah tersadar sepenuhnya akibat mabuk dari buah jol tersebut. Fungsi tari sireh dalam kehidupan masyarakat yaitu sebagai tari pergaulan, sebagai tari penyambutan, dan sebagai tari hiburan. Selain itu, tarian ini juga memiliki fungsi ekonomi/kesejahteraan dan  edukatif/pendidikan. Makna tari sireh yang berarti sebuah simbol peringatan atau aturan mengenai cara bergaul di masyarakat desa Bentek, menunjukkan leluhurnya nilai-nilai kemasyarakatan yang dimiliki Indonesia.