TARI MUANG SANGKAL DAN PENGEMBANGANNYA DI SANGGAR TARI POTRE KONENG SUMENEP MADURA JAWA TIMUR

Pengarang: 

SUKARI, TH. ESTI WURYANSARI

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-97-6

Jumlah Halaman: 
136

Tari muang sangkal lahir dilatar belakangi oleh kepedulian seniman Sumenep dalam menterjemahkan alam Madura. Tarian ini secara harafiah diterjemahkan sebagai tarian untuk membuang petaka yang ada dalam diri seseorang. Tari muang sangkal ini sudah melekat sebagai salah satu ikon seni budaya yang ada di Kabupaten Sumenep. Gerakan dalam tari muang sangkal tidak jauh berbeda dengan tarian pada umumnya. Namun terdapat keunikan-keunikan yang kemudian menjadi ciri khas dari tarian tersebut. Ciri khas tersebut adalah penarinya harus ganjil, dalam keadaan suci atau perawan dan tidak sedang dalam keadaan datang bulan (menstruasi). Busana yang dikenakan dengan dodot legha khas Sumenep. Kemudian pada saat menari para penari memegang sebuah cemong (mangkok kuningan) yang berisikan beras kuning dan diatasnya ditaruruh aneka macam bunga (kembang melati dan mawar) dan daun pandan. Tari muang sangkal mempunyai tiga fungsi, yang meliputi sebagai cerminan dan legitimasi tatanan sosial dimana dalam tarian ini hanya kaum perempuan saja yang boleh menarikan tarian ini; sebagai wahana ekspresi ritus yang bersifat sekuler maupun religius; serta sebagai hiburan sosial atau kegiatan rekreasional. Tarian ini yang pada awalnya muncul didalam lingkup Keraton Sumenep ini berfungsi sebagai tari tolak bala. Tari muang sangkal di Sumenep diantaranya dikembangkan di Sanggar Tari Potre Koneng. Sanggar Tari Potre Koneng tidak hanya mengelola kesenian tradisi, tetapi juga mengelola kesenian kreasi. Hasil karya seni dari Sanggar Tari Potre Koneng cukup baik, baik tari anak, remaja dan dewasa, maupun tari pertunjukkan. Sanggar ini termsauk diantara sanggar yang ada di Sumenep, telah mengupayakan dalam pelestarian kesenian di Sumenep. Tarian ini kedepan tetap dapat dipertahankan karena seni tari ini menjadi ikon Kabupaten Sumenep, terutama untuk menyambut tamu kehormatan.