SUKARNO MUDA BIOGRAFI PEMIKIRAN 1926-1933

Pengarang: 

PETER KASENDA

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

BSL - 922 (920-929)

ISSN/ISBN: 

978-979-3731-77-3

Jumlah Halaman: 
174

Sebagai seorang yang tampil dalam dunia politik secara sungguh-sungguh, sebenarnya usia Sukarno dapat dikatakan tidak muda lagi. Dalam bernegara, Sukarno bukan saja seorang politikus, tetapi juga pemikir yang senantiasa menuangkan buah pemikirannya dalam media massa, risalah atau pleidoi pembelaannya. Kebencian Sukarno terhadap imperialisme dan kapitalisme meningkat seiring dengan segala keinginannya untuk menyatukan pemikiran nasionalisme, Islam dan marxisme. Lewat pamflet politik yang terkenal perihal penyatuan ketiga aliran tersebut, Sukarno mengemukakan gagasan yang mungkin dapat diterima oleh ide-ide lain. Persatuan pemikiran nasionalisme, Islam, dan marxisme harus dilandasi dengan saling mengisi, saling menerima, dan saling memberi, bukan mempertentangkan ide masing-masing. Sebenarnya nasionalisme merupakan upaya Sukarno untuk mencari persatuan dengan membangun suatu ideologi dari berbagai aliran berbeda. Ternyata ideologi nasionalisme yang telah diperkenalkan Sukarno sangat tidak memuaskannya. Sukarno mencoba mencari ideologi yang dapat menyangkut kepentingan rang bayak. Ternyata dengan ditemukannya konsep marhaen, Sukarno telah memecahkan suatu masalah yang merisaukannya selama bertahun-tahun. Dari kata marhaen itulah timbul konsep marhaenisme yang baginya merupakan suatu paham yang berkehendak untuk mengubah kehidupan kaum marhaen. Sukarno secara cerdik menggunakan analisis sosial Marx pada kondisi masyarakat Indonesia. sebenarnya pemikiran tentang rakyat kecil merupakan sumbangan yang khas dalam pemikiran politik Sukarno walaupun hal itu bukan merupakan sesuatu yang amat penting. Memperkenalkan ideologi nasionalisme dan marhaenisme ternyata tidak cukup bagi Sukarno. Ia juga mempersiapkan sejumlah strategi yang dianggap mampu menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Sukarno kurang menghiraukan pandangan yang menginginkan ia mengurangi kesukaannya akan agitasi massa. Sukarno telah memperkenalkan sejumlah ideologi dan seperangkat strategi untuk menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Ia bukan saja memperkenalkan gagasannya, tetapi juga merealisasikan apa yang menjadi keyakinannya dalam praktek sehari-hari.