STRATEGI MENJINAKKAN DIPONEGORO STELSEL BENTENG 1827 – 1830

Pengarang: 

SALEH AS'AD DJAMHARI

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

SUA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-9402-42-1

Jumlah Halaman: 
268

Pemberontakan Diponegoro adalah sebuah pemberontakan merebut kekuasaan politik di Kesultanan Yogyakarta yang direncanakan secara cermat, rahasia dan lama. Pemberontakan ini dilakukan untuk membangun balad Islam berlandaskan Al Qur’an di Tanah Jawa. Jenderal de Kock Panglima Tentara Hindia Timur (NOIL) selaku penanggungjawab keamanan, menerima tugas untuk pemberontakan Diponegoro dengan menciptakan stelsel perang baru yang di beri nama Stelsel Benteng  pada 1827. Strategi Diponegoro pada awalnya berhasil menguras energi, menurunkan moril dan kemauan berperang tentara Belanda. Diponegoro juga berhasil memperpanjang jangka waktu perang. Stelsel Benteng yang diaplikasikan dalam bentuk operasi-operasi teritorial yang persuasif dan operasi psikologi berhasil melemahkan sikap fanatisme para pimpinan pasukan Diponegoro tanpa merasa direndahkan martabatnya. Di samping keunggulannya, Stelsel Benteng ini bukan tanpa cacat dan tidak bisa dikritik. De Kock terperangkap oleh strategi Diponegoro karena kekeliruan menganalisis kondisi medan, cuaca, kemampuan berperang dan kepemimpinan perang orang Jawa.