SISTEM UPAH TRADISIONAL DI DAERAH PROPINSI SUMATERA SELATAN

Pengarang: 

DRS. M. ALIMANSYUR

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1992/1993

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Selatan
Rak: 

4.1(330-33

SISTEM UPAH TRADISIONAL DI DAERAH PROPINSI SUMATERA SELATAN

Sistem upah tradisional di daerah Sumatera Selatan dilandasi antara lain peraturan adat istiadat yang sudah berlaku sejak pertengahan abad ke 17. Pada saat itu salah satu peraturan yang ada ialah Undang-Undang Simbur Cahaya yang meliputi wilayah tidak banyak berbeda dengan Propinsi Sumatera Selatan sekarang.Sistem upah tradisional pada pertanian tanaman semusim meliputi padi, palawija, tembakau dan tebu.Pada setiap jenis ini berlaku system upah paroan dan upahan. Sistem upah tradisional pada pertanian tanaman keras seperti kelapa, teh, kopi, cengkeh, pala dan karet. Dari jenis tanaman di atas berlaku pula sistem upah paroan dan upahan, bentuk upah adalah uang. Sistem upah tradisional pada peternakan unggas seperti ayam, itik, dan juga kambing, biri-biri dan babi. Untuk peternakan besar meliputi sapi, kerbau dan kuda. Sistem upah tradisional pada perikanan darat seperti empang, kolam dan tambak. Perikanan sungai yang dominan yaitu sistem paroan dan upahan. Sistem upah tradisional pada perhutanan meliputi hutan pemerintah dan swasta. Sistem upah tradisional pada kerajinan rumah tangga meliputi kerajinan bahan kulit hewan, tumbuh-tumbuhan, tanah, logan dan sintetis. Sistem upah tradisional pada angkutan meliputi angkutan orang seperti bus, opelet, delman, becak dan ojek. Sistem upah tradisional pada perdagangan meliputi hasil pertanian, hasil industri dan kerajinan. Sistem upah tradisional pada bangunan, khususnya bangunan rumah dan prasarana produksi. Dalam sistem upah tradisional untuk kehidupan sosial dan ekonomi amat baik. Tanggung jawab di dalam sistem upah modern dinyatakan secara tertulis berikut sangsi-sangsi dan cara penyelesaian.