SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL TRADISIONAL MASYARAKAT MELAYU DI SUMATERA UTARA

Pengarang: 

H.T. LUKMAN SINAR, S.H

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1992

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

2.2(300-31

SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL TRADISIONAL MASYARAKAT MELAYU DI SUMATERA UTARA

Daerah pesisir timur Sumatera Utara (Sumatera Timur) sebagai salah satu tempat kediaman orang Melayu dapat ditelusuri melalui konsep kesatuan wilayah budayanya. Konsep embrional tentang kesatuan wilayah itulah agaknya yang menjadi dasar dibentuknya residensi Sumatera Timur oleh pemerintah Hindia Belanda pada bagian penghujung abad ke-19. Persamaan dan perbedaan yang terdapat di wilayah-wilayah dalam saat wadah daerah tempat hunian orang Melayu meliputi semua aspek kebudayaan dari bahasa sampai ke gastronomi dan pakaian. Seyogianyalah setiap persamaan di pandang sebagai faktor dasar pengikat dan landasan identitas setempat, sedangkan setiap perbedaan dipandang sebagai variasi yang memperkaya. Persamaan membina sosok yang tunggal dan kemajemukan teruslah berkembang. Dari segi pemahaman budaya kehidupan sosial masyarakat Melayu menggambarkan suatu perwujudan dari : Himpunan gagasan, nilai, norma dan peraturan serta kebijaksanaan "universalistis"; Hasil aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat berbudaya Melayu; Hasil karya manusia berbudaya melayu yang berfikir jauh ke depan dalam membentuk kesatuan dan persatuan masyarakat melalui suatu bentuk nyata yang mempunyai "keseragaman identitas". Sikap subjektif kadang kala muncul dalam memberikan penilaian terhadap faktor etika sekaligus juga keindahan mengenai masyarakat Melayu. Kenyataan hubungan peranan budaya Melayu dengan kedudukannya dalam konteks sebagai bagian integral dari budaya bangsa Indonesia sesungguhnya tidak perlu disangsikan atau diperdebatkan. Bertitik tolak dari budaya etis dan moral budaya Melayu dapat dipelihara, dikembangkan dan ditata melalui suatu jalur strategi mencakup antara lain : Membina-kembangkan nilai-nilai luhur dalam budaya Melayu dengan memperkokoh kepribadian, mempertebal harga diri dan rasa kebanggaan, serta memperkokoh jiwa kesatuan masyarakat berbudaya Melayu sebagai bagian integral dan menyangkut budaya bangsa Indonesia; Mencegah pengaruh nilai-nilai budaya "luar" yang bersifat negatif, namun menyaring dan menyerap hal-hal positif yang diperlukan untuk pembaharuan dan penyesuaian; Bentuk-bentuk budaya yang cenderung lebih bersifat "tardisional" diberikan peranan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam mempercepat pencapaian hasil pembangunan dan pembaharuan terutama dalam sektor kebudayaan; sehingga dengan demikian budaya Melayu akan mampu mencerminkan suatu yang dinamis, terbuka dan "tahan tantangan masa dan perobahan cuaca", jadi bukan sesuatu yang tertutup, sempit, kedaerahan, kesukuan atau "mudah layu sebelum berkembang".