SISTEM PENGENDALIAN SOSIAL TRADISIONAL DAERAH SUMATERA BARAT

Pengarang: 

DRA. IZARWISMA

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1993

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

300 - 319

Manusia menginginkan adanya suatu keteraturan dalam hidupnya, baik sebagai individu maupun hidup bermasyarakat. Untuk mencapai keteraturan sosial tersebut setiap kelompok masyarakat memiliki norma atau kaidah yang merupakan suatu pedoman dan pandangan untuk menilai bagaimana berperilaku yang pantas dan layak. pada kelompok masyarakat tradisional di daerah pedesaan di Sumatera Barat, terdapat beberapa lembaga sosial yang berhubungan erat dengan sosialisasi tersebut. Lembaga sosial yang dimaksud antara lain : Kerapatan Adat Nagari (KAN), Alim Ulama, Suratu, Lapau (warung kopi), Ronda Kampung dan Bundo Kanduang. Pada intinya lembaga-lembaga sosial tersebut mempunyai fungsi untuk melakukan pengendalian sosial, sehingga kehidupan masyarakat bebas dari segala macam gangguan atau ketegangan sosial. Mekanisme pengendalian sosial tradisional di Sumatera Barat bisa berjalan efektif karena adanya konsep saanak-sakamanakan. Ajaran adat Minangkabau sendiri bersifat ideal sehingga dalam penerapan tidak seluruhnya terwujudkan dalam perilaku masyarakat, yang secara berangsur-angsur terjadi pula proses perubahan sosial. Suatu pengendalian sosial tradisional dapat berjalan efektif bila sistem kesatuan hidup masyarakat masih dalam skope atau lingkup kecil (komunitas setempat), yang masyarakatnya menunjukkan sikap yang homogenitas.