SISTEM KESATUAN HIDUP SETEMPAT DAERAH MALUKU

Pengarang: 

DRS. TJA. UNEPUTTY

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1980/1981

Daerah/Wilayah: 
Bali
Rak: 

2.4(300-31

SISTEM KESATUAN HIDUP SETEMPAT DAERAH MALUKU
Suku bangsa Kei menempati wilayah kepulauan Kei di Kabupaten Maluku Tenggara. Sampai saat ini, sistem pelapisan sosial (mel-mel, ren-ren dan iri-iri) bagi suku bangsa Kei masih bertahan.Sistem pelapisan sosial tersebut dianggap penting dan sesuai dengan norma-norma adat yang telah digariskan oleh leluhur mereka. Dalam kepemimpinan tradisional, para pimpinan terdiri dari rat, orang kaya, kepala soa, tovoat, mitu duan, dan marinyo yang masing-masing mempunyai tugas sesuai dengan peraturan adat yang berlaku. Sistem pengendalian sosial bagi suku bangsa Kei, khususnya di desa Letfuan dikembangkan melalui norma-norma (7 pasal) dalam hukum Larvul Ngabal dan berbagai ungkapan. Untuk Desa Sango terbentuk pada masa kekuasaan Sultan Ternate sekitar tahun 1910, dan merupakan wilayah kekuasaan Sultan. Adapun pelapisan sosial yang terdapat masa kini terbentuk sesuai dengan bentuk sistem pemerintahan desa. Tidak terdapat pelapisan sosial resmi. Di Desa Sango pengangkatan kepala kampung masih didasarkan faktor geneologis. Sistem pengendalian sosial bagi suku bangsa Ternate khususnya di Desa Sango dikembangkan melalui mempertebal keyakinan, dan mengembangkan rasa takut. Sedangkan untuk Desa Lumoli sebagai desa sampel termasuk dalam wilayah Kecamatan Seram Barat I atau lebih dikenal Kecamatan Piru. Suku bangsa Seram di Desa Lumoli taat pada agamanya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pimpinan tertinggi dalam Desa Lumoli disebut raja. Sebagian besar bangsa Seram di Desa Lumoli menganut agama kristen. Nilai-nilai agama sebagai landasan sistem pengendalian sosial lebih dominan daripada nilai-nilai adat.