SISINGAMANGARAJA PEMERSATU BATAK DI TOBA

Pengarang: 

THOMPSON Hs

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI SUMATERA UTARA

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

ARK - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-17680-6-8

Jumlah Halaman: 
165

Dinasti Sisingamangaraja diakui kebanyakan Batak di Toba menjadi pemersatu di zamannya. Kerajaan-kerajaan yang terhubung dengan pengaruh-pengaruh yang datang dari luar ke Nusantara memungkinkan kesinambungan historis sejumlah kerajaan di bagian utara Sumatera, termasuk kemunculan model antitesa seperti Dinasti Sisingamangaraja. Disamping hubungan dengan kerajaan-kerajaan kecil di tigkat lokal itu, Dinasti Sisingamangaraja diketahui kemudian berhubunga dengan kerajaan lokal lain lewat hubungan marga atau adat. Sedangkan hubungan ke luar Toba lebih dikenal melalui legitimasi Raja Uti atau Hatorusan di Barus dan Kerajaan Aceh sejak Sultan Iskandar Muda. Orang Batak di Toba dapat selalu mengingat Dinasti Sisingamangaraja ke depan untuk membangun aspek rasional dari suatu persatuan; dalam konteks kultural atau politik. Dan memang jiwa pemersatu dari dinasti ini belum hilang sama sekali dari penghayatan sekelompok kecil orang Batak di Toba, baik dari kelompok pengikut setianya seperti Parmalim mapun kelompok nasionalis yang membangun persatuan pada konteks negara dan bangsa. Dinasti Sisingamangaraja sungguh berakhir dalam arus perubahan. Batak dan Toba serta persebaran atau migrasi ke tempat-tempat lain untuk mengambil perekat persatuannya kemudian melalui perkumpulan marga. Namun soal perbudakan dalam bentuk apapun merupakan hal yang sangat diterima oleh Batak di Toba sebagai amanah dinasti ini karena hal itu dapat menimbulkan penderitaan kepada orang lain dan sesama.