SENJATA TRADISIONAL DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Pengarang: 

SUNARTI, DWI PUTRO SULAKSONO, SINDU GALBA, GUSTI AYU PUTRI

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1993

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

TEK - 739.7 (730-739)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
107

Mengingat bahwa suatu kebudayaan apalagi di zaman sekarang ini tidak dapat mengelak dari kontak-kontak terhadap kebudayaan asing, ditambah dengan sifat kebudayaan itu sendiri yang dinamis, maka apa yang dikategorikan sebagai senjata tradisional tidak hanya senjata yang telah lama dikenal oleh masyarakat Betawi dan yang merupakan warisan dari nenek moyangnya. Pada setiap masyarakat suku bangsa, apa yang dikategorikan sebagai senjata, bentuk dan fungsinya dalam masyarakat tidak selalu sama. Demikian jika melihat atau mendengar golok, dan kita akan mengenal bahwa benda itu adalah senjata tradisional orang Betawi. Sesungguhnya senjata tradisional orang Betawi tidak hanya golok semata, tetapi masih ada lainnya seperti selendang, trisula, belati, toya, dll. Golok, belati, badik, keris dibuat dengan kegunaan tertentu, bermanfaat bagi kebaikan manusia pada umumnya. Isi senjata tradisional yang disebut tuah, yoni, angsar, daya lebih, pada masa lalu dijadikan andalan dalam membela diri apabila terpaksa mereka harus melawan musuh dan sekarang cenderung untuk mempertebal rasa percaya diri itu dapat dirasakan, ditandai, dideteksi, dideterminasi dan dipilah – pilah. Bahkan dapat dirinci menurutnya bermacam-macam diantaranya berkah atau berkat atau barokah, jin atau makhluk halus, isian induksi dari orang berilmu. Dan dengan mempelajari data-data tersebut secara mendalam, juga diutarakan bahwa tuah memiliki sifat yaitu Tuah atau Isi yang berupa berkah tidak dapat dibuang, diambil, dipindahkan karena sifatnya tetap; untuk jin atau makhluk halus dapat dibuang, dipindahkan, atau pergi (hilang) dengan sendirinya; serta yang berupa isian induksi mempunyai sifat temporer, tidak tetap, dapat hilang atau luntur dalam suatu saat.