SEMANGAT BARU KOLONIALISME, BUDAYA CETAK, DAN KESASTERAAN SUNDA ABAD KE-19

Pengarang: 

MIKIHIRO MORIYAMA

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

BAH - 899 

ISSN/ISBN: 

978-602-9402-26-1

Jumlah Halaman: 
340

Bahasa, budaya dan etnisitas dipermasalahkan secara sadar sejak abad ke-19. Masalah itu tetap menarik sampai kini dan juga  dikaitkan dengan identitas. Di daerah penutur bahasa Sunda hal ini sangat jelas terlihat. Ada pemikiran di kalangan masyarakat Sunda tertentu bahwa apabila bahasa Sunda punah, identitas Sunda pun akan musnah. Hasil penelitian dalam buku yang berjudul Semangat baru Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesasteraan Sunda Abad Ke-19 ini telah berakar lama di kalangan kaum cendikiawan. Pada pertengah abad ke-19, sekelompok orang Sunda sudah menyadari pentingnya bahasa Sunda sebagai simbol etnisitas setengah bergaul dengan orang asing, khususnya Belanda. Padahal bila kita mengamati masyarakat Sunda pada abad ke-21 ini, tampak gaung pemikiran itu masih hidup. Dengan membaca buku ini, bukan hanya mengetahui bagaimana bahasa Sunda ditemukan, dimurnikan dan didayagunakan oleh Belanda dengan ide kolonialismenya atau bagaimana dampak melek aksara dan melek cetak terhadap pembentukan ilmu pengetahuan baru. Uraian didalamnya juga memberikan gambaran yang rinci bagaimana suku Sunda menggeliat meniti gelombang modernitas yang melanda Nusantara pada paruh kedua abad ke-19, dan merasa sederajat dengan bangsa-bangsa lain di Barat.