SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG

Pengarang: 

SAPRILLAH, DKK

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

7.7(900-99

ISSN/ISBN: 

978-979-3897-66-0

SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG

 

Kepercayaan lokal orang Rongkong disebut aluk toyolo, dimana devata disembah melalui pararuk. Mereka juga mengenal penyembahan tengkorak manusia pada saat panen padi dan kematian tomakaka. Ada juga tradisi pokorren yang berarti bekerja dua hari untuk tomakaka. Sistem kebudayaan Rongkong bermuara pada ritual pertanian. Ini karena mata pencaharian penduduk Rongkong adalah pertanian. Tanah pegunungan yang subur sangat memungkinkan untuk hal itu. Karena itulah, peran pongngarong (tetua adat yang membidani pertanian) sangat fungsional sampai sekarang. Sistem sanksi dalam masyarakat Rongkong bersifat denda. Denda yang paling tinggi adalah kerbau, yang jumlahnya tergantung pada tosiaja (ketua adat yang membidani hukum) kecuali yang tertera dalam sapa sangpulo pitu. Kedatangan DI/TII pun sangat berpengaruh pada perubahan kebudayaan dan perubahan sosial masyarakat Rongkong. Pemaksaaan Islamisasi yang dilakukan oleh tentara DI/TII menyebabkan seluruh warga Rongkong meninggalkan kepercayaan lokalnya. Alang ulu (lumbung tengkorak) pun dikuburkan, dan tradisi pesta panen dengan tengkorak pun hilang sama sekali sampai sekarang. Kebudayaan orang Rongkong terpusat pada kehadiran tomakaka. Selama tomakaka ada maka kebudayaan dapat direkonstruksi. Orang Rongkong yang ke Seko adalah turunan tomakaka, karena itu mereka bisa mengkonstruksi idiom-idiom kebudayaan, begitu pula para pengungsi di Kota Palopo. Sedangkan diaspora orang Rongkong ke Malangke yang tidak dipimpin oleh bukan tomakaka, tidak bisa membangun adat berdasarkan adat Rongkong, tetapi tetap bisa membangun komunalitas.