SEJARAH SOSIAL KOTAMADYA SAMARINDA

Pengarang: 

Dra. JUNIAR PURBA

Penerbit: 

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Tahun Terbit: 

2003

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

L8.1(SJRH)

SEJARAH SOSIAL KOTAMADYA SAMARINDA

Penduduk Kotamadya Samarinda terdiri dari berbagai suku dan agama. Suku Dayak dan Kutai merupakan penduduk asli disamping suku Banjar yang dominan jumlahnya. Pertumbuhan kampung mengalami kemajuan yang didorong oleh faktor geografis dan interaksi sosial dengan para penduduk pendatang, dengan demikian perkembangan pembangunan pun semakin meningkat. Dalam pembentukannya menjadi sebuah Kotamadya, seperti yang dikenal sekarang ini, tidak terlepas dari perjalanan sejarah panjang yang dimilikinya, karena pada mulanya wilayah Samarinda merupakan bagian dari Kerajaan Kutai dan sejak zaman VOC, orang-orang Belanda sudah berusaha untuk menjalin hubungan dengan Kerajaan Kutai melalui perdagangan monopoli, tetapi misi VOC tidak dapat berjalan dengan baik karena ia tidak mampu bersaing dengan para pedagang yang datang dari Gowa dan Mataram dan misi VOC untuk mengadakan hubungan dagang di Samarinda tidak pernah berhasil. Status daerah istimewa dicabut menjadi daerah tingkat II dan bekas daerah istimewa Kutai dimekarkan menjadi tiga daerah yaitu : Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong, Daerah Kotamadya Balikpapan, Daerah Kotamadya Samarinda. Sesuai dengan perkembanganya, Kota Samarinda berperan sebagai Kota pemerintahan, Pusat Pendidikan, Pusat perdagangan dengan segala aspek yang mendukungnya termasuk pasar, toko, terminal, bidang transportasi dan komunikasi juga dalam bidang budaya dan pariwisata.