SEJARAH PERKEMBANGAN EKONOMI DAN KEBUDAYAAN DI BANYUMAS MASA GANDASUBRATA TAHUN 1913 - 1942

Pengarang: 

YUSTINA HASTRINI NURWANTI, DARTO HARNOKO, THERESIANA ANI LARASATI

Penerbit: 

BPNB YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

SEK - 900 (900 - 909)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-52-5

Jumlah Halaman: 
116

 

Kehidupan ekonomi dan budaya di Banyumas mengawali era baru sejak Banyumas diekploitasi pihak kolonial. Pada akhir abad 19 sampai awal abad 20, pemerintah kolonial Belanda mulai melaksanakan eksploitasi ekonomi dan penetrasi kekuasaan yang luas. Agar dapat memperoleh keuntungan maksimal, usaha itu dilakukan secara besar-besaran dengan menggunakan tanah pertanian dan tenaga penduduk. Keberhasilan pemerintah kolonial dalam meningkatkan pelaksanaan perekonomian disebabkan oleh kemampuannya dalam memperlajari dan memahami serta memanfatkan lembaga pribumi. Dengan demikian, dalam pelaksanaannya baik perkebunan tebu maupun industri gula menggunakan jalur-jalur wewenang tradisional di daerah pedesaan. Perubahan bentuk kehidupan ekonomi masyarakat pedesaan Jawa dipengaruhi oleh hubungan masyarakat petani dengan jaringan masyarakat yang lebih luas. Adanya jalinan hubungan kedua belah pihak itu dapat memperlebar jaringan hubungan sosial mereka yang pada gilirannya menyebabkan berlangsungnya proses perubahan sosial-ekonomi dan budaya dalam masyarakat pedesaan. Proses perubahan dalam masyarakat mendorong terjadinya berbagai persoalan baru. Hal ini merupakan konsekuensi dari suatu perubahan ekonomi yang sedang berlangsung. Munculnya kebebasan individu yang semakin meluas di dalam masyarakat bahkan muncul gerakan perkembangan budaya baik itu berupa perubahan gaya hidup, perkembangan arsitektur maupun atraksi budaya.