SEJARAH KOTAMADYA BANDA ACEH

Pengarang: 

RUSDI SUFI, IRINI DEWI WANTI, SENO, DJUNIAT

Penerbit: 

BKSNT BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

1996/1997

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

SUA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

979-95312-1-7

Jumlah Halaman: 
102

Sejak tahun 1874 nama Kota Banda Aceh Darussalam diganti menjadi Kutaraja. Seiring dengan berkecambuknya perang antara Belanda dengan Kerajaan Aceh dan penguasaan Belanda terhadap Kota Banda Aceh, kejayaan Banda Aceh semakin memudar, meskipun kota ini tetap ditata sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan Belanda. Selama pendudukan Belanda kota Banda Aceh dijadikan sebagai tempat kedudukan Gubernur. Suasana perang yang terus menerus mengakibatkan kehidupan sosial ekonomi di Aceh mengalami berbagai hambatan. Setelah proklamasi kemerdekaan, Banda Aceh pernah menjadi tempat kedudukan Propinsi Sumatera Utara dan pernah ditetapkan sebagai tempat kedudukan resmi Wakil Perdana Menteri RI mulai tanggal 4 Agustus 1949. Banda Aceh pernah pula dijadikan pusat pengatur perlawanan terhadap pasukan penjajah yang datang kembali ke Indonesia. Peran lain yang menonjol pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949) ini adalah Banda Aceh tampil sebagai daerah modal. Setelah stabilitas keamanan terjamin baru dapat diikuti oleh pembangunan. Masa Orde Baru adalah masa pencerahan, pembangunan yang direncanakan dan dijalankan secara berkesinambungan diupayakan merambah ke seluruh pelosok tanah air, sehingga setiap daerah bergiat untuk melaksanakan pembangunan.