SEJARAH DAN PENGARUH DI KOTAWARINGIN

Pengarang: 

JUNIAR PURBA, LISYAWATI NURCAHYANI, HENDRASWATI

Penerbit: 

KEPEL PRESS

 

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

KTE - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-001-1

Jumlah Halaman: 
97

Kerajaan Kotawaringin Lama pertama kali diperintah oleh Pangeran Adipati Antakesuma bin Sultan Mustainubillah dengan gelar Ratu Bengawan yang memerintah tahun 1615-1630. Dalam catatan sejarah Kalimantan Tengah disebutkan bahwa raja yang memerintah di kerajaan Kotawaringin ada 14 (empat belas) raja yang dalam masa kekuasaannya dibagi dalam dua periode pemerintahan, yaitu pemerintahan dari raja I-VIII di Kotawaringin Lama dan pemerintahan raja ke IX-XIV di Pangkalan Bun yaitu Kotawaringin Baru. Dalam sejarahnya, Kotawaringin telah ada sejak zama Majapahit, sebelum dan sesudah Islam. Perkembangan agama Islam di Kotawaringin mengalami kemajuan yang meningkat sejak masa Panembahan Anom (Sultan ke 3). Pengaruh Islam sudah meresap dalam masyarakat Kota Waringin dilihat dari beberapa bidang diantaranya dalam bidang politik, pengaruh Islam terlihat dalam birokrasi kekuasaan. Belum diketahui secara pasti bagaimana sistem birokrasi sebelum Islam masuk. Ada yang mengungkapkan bahwa masuknya pengaruh Islam berasal dari kerajaan Banjarmasin. Bahkan pendiri kerajaan Kotawaringin (pada waktu itu juga dikenal dengan nama Kutaringin), diyakini adalah keturunan Kerajaan Banjar yaitu Pangeran Adipati Antakesuma. Pengaruh kerajaan Banjar sangat luas dalam pemerintahan kerajaan Kotawaringin, bahkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sangat kental pengaruh Banjar. Sementara pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Banjar tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kerajaan-kerajaan di Jawa.

Translate

The kingdom of Kotawaringin Lama was first ruled by Prince Adipati Antakesuma bin Sultan Mustainubillah with the title of Queen of Bengawan who ruled in 1615-1630. In the historical record of Central Kalimantan, it is stated that there were 14 (fourteen) kings who ruled in the Kotawaringin kingdom which were divided into two periods of rule, namely the reign of the King I-VIII in Kotawaringin Lama and the reign of the IX-XIV king in Pangkalan Bun namely Kotawaringin Baru. In its history, Kotawaringin had existed since the Majapahit era, before and after Islam. The development of Islam in Kotawaringin had increased since the Panembahan Anom (3rd Sultan). The influence of Islam had permeated the City of Waringin seen from several fields including in politics, the influence of Islam was seen in the bureaucracy of power. It was not yet known exactly how the bureaucratic system before Islam entered. Some revealed that the entry of Islamic influence came from the kingdom of Banjarmasin. Even the founder of the Kotawaringin kingdom (at that time also known as Kutaringin), was believed to be a descendant of the Banjar Kingdom, Prince Adipati Antakesuma. The influence of the Banjar kingdom was very broad in the government of the Kotawaringin kingdom, even in various aspects of community life the influence of the Banjar was very thick. While the growth and development of the Banjar kingdom could not be separated from the influence of the kingdoms in Java.