SEJARAH  TOKOH NAMA BANDAR UDARA

Pengarang: 

AGUS SETIAWAN, SISWANTARI

Penerbit: 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

BSL-928 (920-929)

ISSN/ISBN: 

978-623-7092-37-7 /

Jumlah Halaman: 
250

Pada tahun 1998 terjadinya perubahan drastis di Indonesia. Lengsernya Presiden Suharto pada waktu itu memberikan dampak pada perubahan dalam segi kehidupan berbangsa diantaranya yaitu dikeluarkannya Undang-Undang otonomi Daerah yang menyebabkan terjadinya pemekaran sejumlah daerah di Indonesia yang semula berjumlah 27 berubah menjadi 34 Provinsi. Pemekaran tersebut juga berdampak pada pembangunan infrastruktur, diantaranya pembangunan bandar udara sebagai salah satu sarana transportasi di ibukota provinsi baru tersebut. Dalam perkembangannya, pengelolaan bandar udara juga silih berganti mengalami perubahan. Perubahan lain yang terjadi adalah adanya perubahan nama beberapa bandar udara seperti yang akan diutarakan didalam buku ini, baik itu dari nama tempat menjadi nama pahlawan atau tokoh. Misalnya di Banda Aceh, pada zaman Jepang, Bandar udaranya bernama Blang Bintang, kemudian setelah kemerdekaan menjadi Bandar Udara Sultan Iskandar Muda. Sebelum dikelola oleh pihak Angkasa Pura II, bandar udara ini dikelola oleh pemerintah bala tentara Jepang. Demikian juga di Palembang, Bali, Ternate, Gorontalo, dan sebagainya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan nama bandar udara disesuaikan dengan perubahan peran sejarah yang dimainkan oleh para pahlawan dan tokoh pejuang dari tiap-tiap daerah.