SAMADIYAH DALAM STUDI ETNOGRAFI

Pengarang: 

ABDUL MANAN, ESSI HERMALIZA, FARIANI, NURMILA KHAIRA, RAHMAD SYAH PUTRA

Penerbit: 

BPNB ACEH

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

KSK - 305.8 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-79-7

Jumlah Halaman: 
109

Samadiyah merupakan sebuah ritual budaya umat Islam khususnya di sebagian besar Aceh yang dilakukan saat orang tua, anak atau kerabat meninggal dunia. Sejarah awal perkembangan Samadiyah di Labuhan Haji Barat sangat erat hubungannya dengan perkembangan tarekat sufi yang diperkenalkan oleh Syeikh Muda Waly Al-Khalidy. Melalui tarekat inilah dapat dipahami kemudian Samadiyah lahir dan berkembang di masyarakat dengan konsep berupa memca kalimat dan doa-doa tertentu yang diambil dari ayat Al-Quran, kemudian secara turun-temurn diekspresikan dalam kehidupan masyarakat guna mendoakan orang yang telah meninggal. Tradisi ini sangat kental dilakukan, karena dimaksudkan untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT. Samadiyah bukan dilakukan bagi orang meninggal saja, melainkan juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan khanduri dan syukuran lainnya, seperti khanduri pesta pernikahan, pindahan rumah, turun mandi anak dan acara khitanan. Bagi masyarakat Aceh Selatan, Samadiyah adalah budaya, adat, atau hukum yang berlaku dalam agama Islam di setiap kali ada seorang muslim yang meninggal. Perbuatan ini sudah lazim diperoleh dan dilakukan oleh seluruh umat muslim, yang bertujuan untuk menghibur keluarga duka yang ditinggalkan dan mengirim doa untuk orang yang menghadap sang khalik tersebut. Dalam konteks budaya juga terlihat, yang menjadikan Samadiyah di Aceh Selatan, khususnya di wilayah Aceh lain adalah penggunaan baju putih sebagai alat bantu atau simbol pembacaan Samadiyah (surat Al-Ikhlas) layaknya penggunaan tasbih untuk zikir pada umumnya.