RITUAL LULONGGANDA

Pengarang: 

ERENS E. KOODOH

Penerbit: 

BPNB MAKASSAR

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Tenggara
Rak: 

4.3(390-39

ISSN/ISBN: 

-

RITUAL LULONGGANDA

Lulongganda merupakan ritual yang muncul dari percampuran antara kepercayaan asli orang Tolaki terhadap Sangia (Dewa/Dewi) khususnya Dewi Padi yang yang disebut dengan Sanggoleo Mbae, dengan agama Islam. Lulo nganda berasal dari dua suku kata yakni lulo dan ngganda. Lulo adalah tarian tradisional orang Tolaki dan ngganda yang berasal dari kata kanda yakni sejenis alat musik tradisional seperti gendang/tambur. Pada hakikatnya lulongganda dilaksanakan untuk memuja Dewi Padi atau sanggoleo mbae. Pelaksanaan ritual lulongganda dihitung berdasarkan kondisi bulan di langit yang merupakan sistem penanggalan orang Tolaki. Ritual ini dilaksanakan selama 4 hari 3 malam dimulai dari munculnya 13 bulan di langit yakni tombara leanggia, malam ke 14 atau molambu dan malam ke 15 atau motaomehe (bulan purnama). Ritual diadakan akhir september atau akhir oktober berkaitan dengan panen yang telah berlangsung dibulan agustus dan september. Pembukaan ladang umumnya akan dilaksanakan pada bulan november atau setelah ritual lulongganda dilaksanakan. Puncak dari ritual ini adalah pada hari ke-4 sejak diturunkannya kanda dari rumah. Puncak ritual ini mulai pagi hari pada pukul 06.30 yang mulai dengan ritual mosehe (upacara pensucian). Setelah ritual mosehe, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kesenian dan olahraga tradisional. Kesenian tradisional yang dilaksanakan adalah ore-ore nggae atau ore-ore nggawuna atau harmonika tangan yang terbuat dari bambu, wuwuho yakni sejenis seruling dan modinggu yakni menumbuk padi di lesung berdiri (wohu tundoro) dengan memakai alu-alu. Sedangkan olahraga tradisionalnya adalah mehule/bermain gasing, kandau/pencak silat, metinggo/egrang dan mebiti/adu betis. Setelah seluruh rangkaian acara ini selesai, kemudian dilaksanakan doa syukur dan diakhiri dengan santap/makan bersama.