REVITALISASI KESENIAN SINTREN DI KOTA DAN KABUPATEN PEKALONGAN

Pengarang: 

ATIK TRIRATNAWATI, H ISNI HERAWATI, SUJARNO, SUMARNO, HARTO WICAKSONO, M. ARIF RAFSANJANI, YULINA DWITA PUTRI

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

602-17271-2-6

Jumlah Halaman: 
183

Pentas sintren dahulu terkait dengan adat gotong royong bersih desa maupun sedekah laut bagi masyarakat nelayan Pantura Jawa. Kemudian beralih fungsi menjadi kesenian semata yang biasa dipentaskan saat upacara khitanan, perkawinan maupun hari jadi kota/kabupaten. Sintren asli sarat dengan nilai religi, simbolik dan moralitas. Unsur magic terlihat pada saat trance kemudian siuman setelah dimantra pawang. Syarat menjadi sintren pun harus seorang perawan, dan ada persyaratan ketat lain yang harus dijalani sebelum pentas seperti puasa, tidak tidur dirumah dan lainnya. Stigma yang melekat pada seni sintren sebagai tontonan yang menggunakan magic, mistis dan sesaji untuk menarik penonton tidak lagi sesuai dengan perkembangan masyarakat yang sekarang cenderung agamis dan ingin menghilangkan sesuatu yang menyimpang dari ajaran Islam. Tumbuhnya industri pariwisata telah melahirkan seni wisata yaitu munculnya sintren garapan. Sintren garapan mengandung ciri seni untuk wisata yaitu tiruan dari aslinya; singkat/padat pertunjukannya; penuh variasi; nilai kesakralan, simbolik dan kemagisannya dikesampingkan serta murah harganya.