PROSES SOSIALISASI ANAK DALAM KELUARGA POLIGINI DI PEDESAAN KABUPATEN SUBANG

Pengarang: 

FAJRIA NOVARI MANAN, ERNAYATI, ZULYANI HIDAYAH

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1995

Daerah/Wilayah: 
Jawa Barat
Rak: 

PPA - 362.1 (360-369)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
83

Perangkat pedoman bertindak, yaitu sumber acuan dalam bertindak yang paling lazim dikembangkan oleh masyarakat pedesaan di Subang dalam hal perkawinan adalah aturan agama Islam. Keluarga poligini di Subang umumnya terbentuk karena perkawinan yang disahkan oleh agama Islam. Perkawinan poligami yang umumnya tidak dilaporkan ke petugas pencatat perkawinan dari KUA atau Pengadilan Agama tersebut dikategorikan sebagai "perkawinan bawah tangan" atau "poligami tidak sehat". Kekuatan hukum agama Islam yang dianut sebagian besar masyarakat Subang dianggap lebih sakral dan sesuai dengan adat istiadat setempat, karena itu perkawinan secara Islam dan sedikit upacara adat dianggap sudah sah oleh masyarakat. Dalam masalah sosialisasi anak para pelaku poligami dan anggota keluarga poligini Subang pada dasarnya menyandarkan diri pada struktur kedudukan dan peranan yang berlaku pada keluarga inti bilateral Sunda pada umumnya. Ciri utamanya adalah, bahwa sifat kehidupan keluarga inti di Subang cenderung untuk matrifokal. Sesungguhnya sosialisasi anak dalam keluarga poligani di Subang tidak berbeda dengan keluarga monogami biasa, yaitu lebih banyak dijalankan oleh ibu dari pada ayah. hanya saja keluarga-keluarga poligini memiliki kecendrungan matrifkal yang lebih tinggidari pada keluarga inti monogami. Kurangnya peranan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak dalam keluarga poligini tidak menjadikan anak-anaknya terlantar, putus sekolah atau mengalami hambatan dalam pergaulan, karena peranan tersebut sudahdiambil alih oleh ibu dan keluarga asal pihak ibu. Anggapan bahwa anak-anak dalam keluarga poligini akan cenderung mengalami hambatan dalam sosialisasi, karena terlantar olehayah yang kawin lagitidak berlaku dalam masyarakat yang masih mengembangkan struktur keluarga matrifokal. Di Subang terlihat, betapa ibu-ibu yang di madu cenderung untuk makin memperhatikan kepentingan anak-anaknya, sehingga bersedia membanting-tulang agar bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke Perguruan Tinggi. Beberapa orang informan menceritakan kesuksesan seorang istri kedua atau ketiga membiayai anaknya sekolah hingga menjadi sarjana dari hasil usahanya sendiri.Keberhasilan sosialisasi anak tidaklah tergantung kepada lengkap atau tidaknya anggota keluarga intinya seperti struktur keluarga monogami yang dianggap ideal oleh masyarakat moderen, tetapi tergantung kepada kesempurnaan pengasuhan, perhatian, dan kasih sayang orang-orang terdekatnya.