PROSES BINA PERDAMAIAN DI KABUPATEN KOTA WARINGIN TIMUR (SUATU KAJIAN SOSIAL BUDAYA)

Pengarang: 

BAMBANG H. SUTA PURWANA

Penerbit: 

BPSNT PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2007

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

2.2(300-31

PROSES BINA PERDAMAIAN DI KABUPATEN KOTA WARINGIN TIMUR (SUATU KAJIAN SOSIAL BUDAYA)
Budaya dalam konflik Sampit dapat diduga menjadi sumber legitimasi terhadap konflik namun juga dapat menjadi landasan untuk membangun resolusi konflik yang diterima masyarakat. Warga masyarakat memahami bahwa akar permasalahan konflik di Kotawaringin Timur dan Kalimantan Tengah pada umumnya adalah benturan budaya. Warga masyarakat setempat menganggap budaya orang Madura itu keras, suka menggunakan cara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, ekslusif dan arogan. Para pihak yang memiliki peran dalam proses pembangunan perdamaian itu antara lain pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat, dan individu-individu yang peduli terhadap perdamaian. Namun prakarsa perdamaian tidak hanya muncul dari organisasi sosial dan instansi pemerintah, individu-individu tertentu juga dapat melakukan inisiatif perdamaian. Resolusi konflik di Kotawaringi Timur yang banyak menerapkan pendekatan budaya, seperti upaya revitalisasi adat istiadat atau belom bahadat dan norma sosial atau filosofi huma betang dan pemanfaatan modal sosial terbukti telah berhasil untuk membangun kembali integrasi sosial di wilayah Kotawaringin Timur.