PRAM DAN CINA

Pengarang: 

HONG LIU, GOENAWAN MUHAMMAD, SUMID KUMAR MANDAL

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2008

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

BSL - 928 (920-929)

ISSN/ISBN: 

979-3731-42-7

Jumlah Halaman: 
139

Pram dengan Cina sedekat bibir dengan gusi. Orang Cina di Indonesia, bagi Pram, bukan orang lain. “Tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain bayi satu isyarat si bayi berdarah Cina, padahal bayi-bayi Indonesia yang berkulit lebih cerah dari coklat pun bertembong biru, “ ungkap Pram dalam Hoakiau di Indonesia (1960). Lebih dari seratus ribu orang Tionghoa meninggalkan Indonesia pada tahun 1960-1961 sebagai akibat PP 10/1995. Secara tipikal, mereka mengalami banyak kesengsaraan karena masalah yang timbul. Di satu pihak, masalah itu timbul karena intrik politik negara Indonesia dan Tiongkok dan dilain pihak karena meningkatnya teror didalam perbatasan Indonesia sendiri. Pramoedya berkali-kali menandaskan bahwa alasan dasarnya menulis Hoakiau adalah untuk menunjukkan bahwa tidak kurang dari sebuah program ekonomi dan bukannya sekadar suatu pergeseran dalam personel yang akan memperbaiki nasib para pengusaha pribumi Indonesia. Salah satu masalah tahun 1960-an adalah jawaban dan serangan defensif berdasarkan kepartaian yang menciptakan kelompok yang sangat terpolarisasi. Dalam beberapa hal, kelompok itu juga bertanggungjawab atas lahirnya “masalah Tionghoa”. Kemudian saat PKI atau Soekarno melangkah ke dalam pergumulan untuk membela orang Tionghoa, mereka secara tidak terelakkan menerima ketentuan perdebatan itu – keberadaan suatu pengertian yang terifikasi mengenai orang-orang asing Tionghoa. Pramoedya tidak menerima persyaratan ini. Ia memulai kembali dengan menyejarahkan ketionghoaan, bersikap peka akan medan antara bangsa maupun perubahan politik eksternal, peka dengan bangkitnya Tionghoa sebagai sebuah kekuatan dunia.