POTRET KAMPUNG-KAMPUNG PENDATANG DI BANJARMASIN

Pengarang: 

HENDRASWATI, LISYAWATI NURCAHYANI, DANA LISTIANA

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

KSE - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-1202-19-7

Jumlah Halaman: 
133

Keberadaan kaum migran di Banjarmasin berhubungan dengan aktivitas perdagangan. Seiring meningkatnya kedatangan pedagang dari luar daerah yang menetap dan menjadi penduduk maka perkampungan berorientasi pada asal daerah terbentuk. Meski kontak sosial-budaya antara mereka terus berlangsung, namun permukiman dengan orientasi kedaerahan diperkuat dan dipertegas oleh kebijakan rasial pemerintah kolonial. Melalui kebijakan tentang permukiman (wijkenstelsel), Kota Banjarmasin yang sejak kontrak 4 Mei 1826 menjadi bagian dari Tanah Gubernemen sehingga kota berada dalam regulasi langsung pemerintah kolonial (Indonesia, 1965:248-253) menjadi wadah bagi permukiman yang terpisah berdasarkan etnis. Wijkenstelsel memisahkan kawasan permukiman berdasarkan stratifikasi sosial yang berlaku saat itu. Orang Eropa dan Timur Asing dipusatkan di kota pemerintahan sedangkan pribumi ditempatkan di luar kota. Kebijakan tersebut dimaksudkan agar mereka mudah diawasi dan dikontrol. Kampung Cina, Kampung Arab dan Kampung Bugis merupakan kampung berorientasi etnis yang kemungkinan besar merupakan akibat dari wijkenstelse. Oleh sebab itu, buku Potret Kampung-Kampung pendatang di Banjarmasin ini memuat 3 judul, yaitu: 1) Potret Kampung dan Komunitas Arab di Banjarmasin oleh Hendraswati, 2) Potret Kampung Bugis di Banjarmasin oleh Lisyawati Nurcahyani dan 3) Permukiman Cina di Banjarmasin Hingga Awal Kemerdekaan oleh Dana Listiana.