POTENSI PACU KUDO SEBAGAI OBJEK PARIWISATA DI NAGARI VII KOTO TALAGO, KECAMATAN GUGUK KABUPATEN 50 K

Pengarang: 

ALMAIZON

Penerbit: 

BPSNT PADANG PRESS

Tahun Terbit: 

2009

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

2.2(300-31

ISSN/ISBN: 

978-979-9388-96-4

POTENSI PACU KUDO SEBAGAI OBJEK PARIWISATA DI NAGARI VII KOTO TALAGO, KECAMATAN GUGUK KABUPATEN 50 KOTO
Permainan pacu kudo sudah di kenal oleh masyarakat Sumatera Barat sejak masa pemerintahan Kolonial Belanda, tepatnya sejak sekitar abad ke 19. Permainan pacu kudo tidak hanya sekedar sebagai permainan rakyat sejak masa dahulu di Sumatera Barat, tetapi memiliki fungsi-fungsi dan nilai-nilai budaya, namun seklaigus sebagai alat sosialisasi maupun sarana untuk menurunkan, mewariskan norma-norma, sikap mental, etika sopan santun serta nilai-nilai hidup terutama hubungan antara sesama manusia, dengan lingkungan alam dan dengan Sang Maha Pencipta. Selain itu juga sebgai alat kontrol sosial secara tidak langsung dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Permainan pacu kudo, terutama pada masa dahulu merupakan salah satu arena yang dijadikan oleh masyarakat sebagai arena pesta rakyat. Meskipun para pemilik kuda hanya berasal dari golongan orang-orang kaya dan pejabat, namun setiap kali pacuan digelar, seluruh lapisan dan golongan masyarakat dari pelosok-pelosok dusun dan nagari datang ke gelanggang. Dari sudut pandang pariwisata, pacu kudo tradisional di Sumatera Barat memiliki potensi yang sangat besar untuk mendatangkan wisatawan tidak hanya lokal, tetapi juga wisatawandomestik dan wisatawan asing. Faktor utamanya adalah konsep permainan pacu kudo di Sumatera Barat berbeda dengan konsep permainan pacu kudo modern yang terdapat di luar negeri, terutama dari bentuk ketradisionalannya.