POLA PENGASUHAN ANAK SECARA TRADISIONAL PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

Pengarang: 

M. ALAMSYAH B, MUHAMMAD US, RUSDI SUFI, AZHAR MUNTHASIR, DARWIS, M. RASYID ADAM

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1992

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

PPA - 649.1 (640-649)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
115

Pengasuhan anak masih dalam kandungan ibunya dan ada beberapa pengasuhan yang terdapat pada saat itu , sedangkan yang dianggap penting adalah Mee bu bid eun (bawa nasi bidan). Hal ini harus dilaksanakan, tidak dibawa maka terjadi pembicaraan yang serius dari warga masyarakat desa dengan anggapan jika hal ini tidak dilakukan maka anak yang lahir tidak baik atau nakal. Setelah usianya sudah beberapa hari diadakan upacara peucicap cukook dan sekaligus memberikan nama kemudian diadakan upacara peutron aneuk (menurunkan anak). Rangkaian upacara tersebut merupakan awal dari pola pengasuhan anak yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Daerah Istimewa Aceh. Pola pengasuhan anak di Aceh ini pada prinsipnya masih memperlihatkan pola tradisional. Sesuai dengan latar belakang kebudayaan masyarakatnya, bahwa adat di Aceh ini tidak mutlak harus dilaksanakan. Bahkan ada perubahan dari adat istiadatnya yang mengakibatkan adanya kontak dengan kebudayaan luar sehingga menyebabkan banyak tergesernya adat istiadat setempat. Berpijak dari hal tertentu, masyarakatnya membuka selebar-lebarnya untuk memanfaatkan unsur modern dalam pengasuhan anaknya misalnya segi pendidikan. Sekarang ini walaupun orientasi masih mengacu pada agama Islam yang masih bertahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi orang tua berupaya aktif untuk menyekolahkan anaknya  di sekolah umum untuk kepentingan hari depan anaknya. Karena dengan bersekolah anak-anak mengenal berbagai tokoh pengasuh untuk membentuk kepribadiannya dan pergaulan yang luas. Selain mengenal tokoh pengasuh di sekolah mereka juga mengenal guru mengaji. Jadi pola pengasuhan anak di Aceh ini bukan saja dilakukan oleh orang tua di rumah, bahkan dilakukan oleh guru mengaji dan guru di sekolah.