PERTEMPURAN LIMA HARI DI SEMARANG (15-19 OKTOBER 1945) : SEBUAH PENDEKATAN BIOGRAFIS

Pengarang: 

NURDIYANTO, DARTO HARNOKO, TUGAS TRI WAHYONO

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

SPR - 904.7 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-94-5

Jumlah Halaman: 
142

Menyimak sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang, kiranya tidaklah dapat disangkal bahwa peristiwa itu merupakan peristiwa paling berdarah dalam sejarah awal Perang Kemerdekaan Indonesia. pertempuran tersebut terjadi karena keinginan rakyat untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Ini berarti tidak lagi mengakui kekuatan pemerintah Jepang di Semarang. Karena itu dilakukanlah tindakan yang melambangkan pergantian kekuasaan seperti menurunkan Bendera Hinomaru  dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih, menduduki gedung-gedung pemerintahan, merebut senjata, dan lain-lain. Peristiwa tersebut memiliki arti tersendiri bagi bangsa Indonesia umumnya dan Jawa Tengah pada khususnya. Karena betapapun peristiwa tersebut bukanlah terjadi secara kebetulan. Tetapi adalah manifestasi kebulatan tekad rakyat Indonesia dengan kepeloporan rakyat dan tentara untuk mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, sehingga melahirkan episode gemilang yang mewarnai lembaran sejarah Indonesia. kiranya episode gemilang tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor, diantaranya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 telah berhasil mempersatukan seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankannya;  tumbuhnya kepemimpinan yang mampu mendorong rakyat untuk bergerak aktif berjuang secara serempak, kompak, terarah dan efektif sesuai dengan sektornya masing-masing, dan sebagainya. Timbulnya nilai-nilai yang menjadi kunci keberhasilan yaitu kepercayaan kepada kekuatan sendiri dan penuh tanggung jawab dan rela berkorban.