PERS DAN PEMIKIRAN INTELEKTUAL DI BORNEO BARAT MASA KOLONIAL

Pengarang: 

DANA LISTIANA, KAREL JUNIARDI, RAISTIWAR PRATAMA

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-88-3

Jumlah Halaman: 
128

Pers lahir di Borneo Barat pada tahun 1919 dalam kondisi ekonomi kawasan yang cukup mandiri, saat lembaga pendidikan sudah hadir di ibukota-ibukota kerajaan melalui madrasah dan lembaga formal ataupun di pedalaman melalui aktivitas misionaris, dan masuknya ide pergerakan nasional baik dari kalangan masyarakat Borneo Barat yang ke luar daerah ataupun aktivis organisasi pergerakan yang masuk ke daerah. Lahir dan berkembangnya pers di Borneo Barat tidak dapat dipisahkan dari organisasi massa. Baik yang secara langsung didirikan oleh aktivis partai sehingga ide pergerakan secara gamblang diutarakan dalam pers. Ataupun muatan pemikiran yang diserap dari partai namun dibalut dengan fakta dan realita sosial sehingga disampaikan dengan tidak gamblang. Perkembangan model pertama terjadi pada fase awal antara tahun 1919 hingga 1927. Pada fase ini, dominasi pers yang memuat ide partai terutama komunisme disampaikan sebagai jalan keluar dari kondisi masyarakat yang dicitrakan sengsara sebagai akibat dari kolonialisme dan kapitalisme pemerintah jajahan. Pemikiran intelektual disampaikan dengan nada kritis dan provoaktif sehingga usia pers relatif pendek, meski persoalan finansial juga merupakan penyebab utama dihentikannya penerbitan, seperti surat kabar Halilintar dan Berani. Corak yang sedikit berbeda pada fase ini muncul dari koran yang memuat pemuliaan pihak Istana yakni koran Sinar Borneo. Sedangkan model kedua pada fase selanjutnya antara 1927-1941. Pada fase ini didominasi oleh pers yang memuat ide kebangsaan. Ide kebangsaan disampaikan dalam konteks Indonesia oleh koran-koran independen seperti yang dimuat dalam Borneo Barat dan Tjaja Timoer. Perubahan gaya pemberitaan yang tergambar dalam dua fase diduga disebabkan oleh pengawasan pemerintah. Meningkatnya pengawasan pemerintah (tidak hanya pada muatan pers juga aktivitas politik) yang diikuti oleh perubahan gaya pemberitaan dalam pers, di Borneo Barat ditandai oleh penangkapan para aktivis lokal yang diduga terlibat dalam gerakan komunisme yang diantaranya dikenal sebagai jurnalis.

Translate

The pers was born in Borneo Barat (West Boneo) in 1919 in a fairly independent regional economic condition, when educational institutions were present in the royal capitals through madrassas and formal institutions or inland through missionary activities, and the inclusion of national movement ideas both from the Borneo Barat (West Boneo) community outside the area or activist organizations that moved into the area. The birth and development of the press in Borneo Barat (West Boneo) could not be separated from mass organizations. Both were directly established by party activists so that the idea of ​​movement was explicitly expressed in the press. Or the content of thought absorbed from the party but was clad with facts and social reality so that it was conveyed vaguely. The development of the first model occurred in the initial phase between 1919 and 1927. In this phase, the dominance of the press that contained the ideas of the party, especially communism, was conveyed as a way out of the conditions of society that were imaged as a result of colonialism and capitalism of the colonial government. Intellectual thought was delivered in a critical and provocative tone so that the age of the press was relatively short, although financial problems were also the main cause of the cessation of publishing, such as the Halilintar and Berani newspapers. A slightly different style in this phase emerged from the newspaper which contained the Palace's glorification of Sinar Borneo newspaper. While the second model in the next phase between 1927 and1941. In this phase the press was dominated by a national idea. The idea of ​​nationality was conveyed in the Indonesian context by independent newspapers such as those published in Borneo Barat (West Boneo) and Tjaja Timoer. The change in style of reporting reflected in the two phases is thought to have been caused by government oversight. Increased government oversight (not only on the press content but also political activities) which was followed by a change in style of reporting in the press, in Borneo Barat (West Boneo) was marked by the arrest of local activists who were allegedly involved in the communism movement, some of whom were known as journalists.