PERKEMBANGAN CERITA RAKYAT CAME MENJADI NYANYIAN DAN TARI DI KABUPATEN SARMI

Pengarang: 

YUDHA N YAPSENANG, ARIE JANUAR, MUH JUNDULLAH DZIA ULHAQ

Penerbit: 

BPNB PAPUA

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Papua
Rak: 

CER - 398 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-6525-03-1

Jumlah Halaman: 
83

Pada masa sekarang Came bukan saja menjadi cerita, namun sudah menjadi suatu nyanyian dan tarian yang dibawakan dalam berbagai ajang budaya. Dalam kisahnya, came berisikan tentang bagaimana proses came membunuh manusia hingga saat ia meninggal. Dalam nyanyian tersebut, came melakukan sambil berdansa. Seni tradisi came sebagai sebuah kesenian suara dan dansa merupakan penjelmaan rasa kagum manusia akan sesuatu yang ia temui dan mereka munculkan dalam prantara komunikasi yang dapat dilihat oleh panca indera. Rasa kagum ini digambarkan alam dua bentuk yakni tuturan dan gerak. Alat musik utama yang digunakan dalam tarian ini adalah tifa. Pementasan seni tradisi came dibagi menjadi dua termin cerita, meliputi bercerita tentang keperkasaan came yang gemar memakan manusia, dan bercerita ketika came akan dibunuh oleh masyarakat setempat. Seni tradisi ini tidak hanya berkembang dalam kebudayaan masyarakat Armati dan Isirawa tetapi juga tersebar ke beberapa wilayah seperti Memberamo, Sarmi hingga ke wilayah Tami. Selain sebagai sebuah kesenian pertunjukan, came juga memiliki berbagai fungsi dan makna di dalam masyarakat Armati dan Isirawa. Diantaranya sebagai alat transmisi budaya masyarakat, pembentuk rasa solidaritas, etika dalam kehidupan sehari-hari, dan lain-lain. Tradisi came saat ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Armati dan Isirawa dalam bentuk kesenian suara dan tari. Dalam perkembangannya, kesenian ini masih terus dikembangkan, baik dalam bentuk cerita hingga gerak. Seniman sebagai pencipta harus terus berkreasi untuk kebudayaan masyarakat tersebut agar mampu bersaing dengan kebudayaan masyarakat yang ada.