PERJUANGAN MENUNTUT KEADILAN DAN HAK KEBEBASAN BERAGAMA : PENGANUT KAHARINGAN

Pengarang: 

PAULUS JASMIN, ELIAS NGIUK, YOHANES SUDARMONO

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

AGA - 299 (290-299)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-95-1

Jumlah Halaman: 
98

Kaharingan adalah salah satu kekayaan yang diwariskan oleh leluhur orang Dayak Ngaju dalam bentuk kepercayaan. Sebagai warisan leluhur Kaharingan dijalani sampai sekarang dan para penganutnya bertambah setiap tahun. Para penganut Kaharingan yakin bahwa Kaharingan adalah agama yang telah ada sejak zaman dahulu. Namun demikian, Kaharingan belum diakui sebagai sebuah agama yang resmi. Keberadaannya masih dianggap sebagai salah satu aliran kepercayaan. Para penganut Kaharingan berusaha membuktikan bahwa agama yang mereka anut mempunyai berbagai kriteria yang dapat disamakan dengan agama yang lainnya. Namun usaha untuk menampilkan berbagai kriteria tersebut tidak mampu membuat Kaharingan sebagai agama yang diakui dan agama yang resmi. Usaha untuk menjadikan Kaharingan sebagai agama yang resmi dilakukan oleh para tokoh agama dengan mengadakan berbagai pendekatan terhadap pemerintah. Perjuangan untuk mendapat pengakuan dilakukan untuk mendapatkan rasa keadilan dan kebebasan menjalankan ibadah.

Translate

Kaharingan was one of the assets inherited by the ancestors of the Dayak Ngaju in the form of belief. As a heritage Kaharingan ancestors lived until now and its adherents are increasing every year. Kaharingan followers believed that Kaharingan was a religion that had existed since ancient times. However, Kaharingan had not been recognized as an official religion. Its existence was still considered as one of the streams of trust. Kaharingan followers tried to prove that their religion had various criteria that could be compared to other religions. However, efforts to display these various criteria were unable to make Kaharingan a recognized religion and an official religion. Efforts to make Kaharingan an official religion were carried out by religious leaders by holding various approaches to the government. The struggle for recognition was done to get a sense of justice and freedom to practice worship.