PEREMPUAN LAWEYAN DALAM INDUSTRI BATIK DI SURAKARTA

Pengarang: 

TUGAS TRI WAHYONO, SUWARNO, YUSTINA HASTRINI NURWANTI, TARYATI

Penerbit: 

BPNB YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

RKE - 746.6 (740-749)

ISSN/ISBN: 

978--602-1222-20-1

Jumlah Halaman: 
116

Tradisi membatik yang dilakukan oleh masyarakat Laweyan, tidak terlepas dari sejarah keberadaan Kampung Laweyan itu sendiri yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat birokrat kerajaan. Bertambahnya kekayaan para pengusaha batik ternyata erat kaitannya dengan naiknya status sosial para pengusaha batik. Hal itu dibuktikan dengan pemberian gelar mbok mase, yaitu gelar untuk para majikan (pengusaha besar) batik di Laweyan. Sebutan mbok mase untuk pengusaha batik Laweyan itu justru lebih banyak dikendalikan oleh kaum perempuan. Hal itu karena sifat batik sebagai hasil industri membutuhkan kecermatan, kehalusan dan keindahan yang sangat sesuai dengan sifat yang dimiliki perempuan, sehingga sebagian besar proses batik dikuasai oleh prempuan. Mbok mase menyiapkan anak-anak perempuannya menjadi penerus usaha. Anak perempuan yang disebut mas rara itu sejak kecil sudah dilibatkan dalam industri batik. Pada masa sekarang, keterlibatan perempuan Laweyan untuk melakukan regenerasi masih tetap berlangsung. Sebagai contoh, proses regenerasi yang terjadi di perusahaan batik Cempaka. Batik Cempaka dahulu bernama Cempaka Putih ketika didirikan pada tahun 1980. Selain pengusaha batik, para buruh batik pun mewariskan keahliannya kepada keturunannya. Transfer keterampilan terjadi melalui lingkungan sosial-budaya yang ada yakni melalui lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.