PERANAN BATU PAMALI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT DI MALUKU

Pengarang: 

BETY D.S HETHARION, ELIFAS T. MASPAITELLA, HENDRIK R. HERWAWAN, DLL

Penerbit: 

BPNB AMBON

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Maluku
Rak: 

MAD (300-319)

ISSN/ISBN: 

987-979-1463-36-9

Jumlah Halaman: 
153

Simbol batu pamali merupakan simbol adat yang penting, seperti halnya baileu dan diyakini sebagai simbol yang sakral. Sebab itu setiap ritus yang berlangsung di batu pamali adalah ritus-ritus khusus yang dilaksanakan juga oleh orang yang oleh adat ditetapkan untuk itu, yakni maweng atau imam adat, atau disebut juga Pendeta Adat. Batu pamali merupakan sisa peninggalan leluhur yang menunjukkan adanya pengaruh dari zaman megalitikum di Maluku, yang dibawa bersamaan dengan migrasi kelompok Austronesia ke Pulau Seram. Sebab itu batu pamali dapat disejajarkan dengan beberapa dolmen yang juga ditemukan di Maluku, misalnya natar di Maluku Tenggara Barat. Kesakralan batu pamali turut dibentuk oleh pola--pola saksalisasinya seperti penempatannya di pelataran baileu. Umumnya diletakkan di bagian selatan, atau didalam pelataran baileu, sehingga kesakralannya diyakini sama atau menjadi bagian dari kesakralan baileu atau sebaliknya. Pentingnya batu pamali dikarenakan juga karena beberapa fungsi pokok yang menjadi bagian dari keyakinan umum masyarakat. Beberapa fungsi itu diantaranya sebagai dasar pembentukan/terbentuknya negeri adat, tempat permusyawaratan para leluhur, mengokohkan identitas adatis dll. Pada beberapa negeri adat, batu pamali adalah simbol integrasi sosial antar-soa, tetapi juga antar-negeri bahkan yang berbeda agama sekalipun. Batu pamali sebagai dasar pembentukan negeri menjadi salah satu simbol yang mengentalkan relasi keleluhuran dan kekerabatan itu, sehingga setiap masyarakat mampu memahami dirinya didalam relasi sesehari maupun pada saat berlangsung upacara-upacara di batu pamali atau upacara adat lainnya.